Lebak, Nusantara Media – Siapa sangka di tengah kemajuan zaman, masih ada warga seperti Adih Supiadi (39) yang harus hidup dalam ketakutan setiap hari karena rumahnya nyaris ambruk. Pria asal Kampung Babakan Kembang, Desa Lebakkeusik, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini hanya bisa pasrah menjalani hidup serabutan dengan penghasilan harian Rp20.000 hingga Rp50.000, yang bahkan tak cukup untuk makan sehari-hari, apalagi merenovasi rumah yang sudah rapuh.

Rumah Adih, yang ditempati bersama istri, mertua, dan adik ipar, mengalami kerusakan parah: atap bocor, dinding bolong-bolong, dan struktur bangunan yang sewaktu -waktu bisa roboh, terutama saat hujan deras. Kondisi ini telah berlangsung lama, membuat keluarga ini hidup dalam ancaman tragedi kapan saja. "Kalau hujan, kami cuma bisa berdoa agar rumah tidak ambruk menimpa kami," ujar Adih dengan suara pilu saat ditemui di lokasi.

Kisah Adih baru-baru ini terungkap melalui pendataan media, di mana ia mengaku belum pernah didata oleh aparat desa setempat. Lahir di Lebak pada 1 Januari 1985, Adih berstatus kawin dan bekerja sebagai wiraswasta serabutan. Dengan NIK 360209070101860015, ia adalah warga negara Indonesia (WNI) beragama Islam, tapi aksesnya terhadap bantuan sosial nol besar. Tidak ada BPJS Kesehatan, tidak ada bansos lain, membuatnya pasrah jika sakit atau musibah datang.

Kejadian pilu ini berada di RT 012/003, Kampung Babakan Kembang, Desa Banjarsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak – sebuah pelosok di Provinsi Banten yang sering luput dari perhatian pemerintah. Daerah ini mencerminkan kemiskinan struktural di pedesaan, di mana warga miskin terjebak tanpa jalan keluar.

Penyebab utamanya adalah penghasilan tidak menentu dari pekerjaan serabutan, ditambah kurangnya pendataan oleh pemerintah desa. Adih tidak punya pilihan lain selain tinggal serumah dengan keluarga besar, karena tak mampu membangun atau menyewa tempat baru. Minimnya akses bantuan seperti BPJS dan renovasi rumah dari pemerintah memperburuk situasi, menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.

Adih berharap pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten segera turun tangan untuk pendataan akurat dan bantuan langsung, seperti perbaikan rumah dan kepesertaan BPJS Kesehatan. "Saya hanya minta dibantu sedikit saja, biar keluarga aman," pintanya. Pihak terkait diharapkan segera menindaklanjuti agar tragedi lebih besar bisa dicegah. Kisah Adih ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya penyaluran bantuan tepat sasaran bagi warga kurang mampu di daerah terpencil.