Kejuaraan Ketahanan Dunia atau yang lebih dikenal sebagai World Endurance Championship (WEC) pertama kali diluncurkan pada tahun 2012. Sejak saat itu, ajang ini telah melahirkan banyak legenda balap ketahanan trek panjang. Menyusul Sebastien Buemi yang sebelumnya telah mencapai tonggak sejarah dengan mencatatkan penampilannya yang keseratus di Barcelona, kini giliran Richard Lietz yang bersiap menorehkan catatan emas serupa. Pembalap pabrikan asal Austria yang telah mengabdi bersama panji kepengurusan kendaraan pabrikan Stuttgart sejak 2007 ini menyambut balapan jubileum tersebut dengan kepala dingin.

Mengemudikan mobil andalan bernomor khas dari tim Manthey yang berlaga di kelas GT3, pembalap senior berusia 42 tahun ini masih menyimpan peluang matematis untuk merengkuh gelar juara dunia ketiganya pada seri penutup musim ini. Berbicara mengenai perjalanan panjang musim ini, Lietz menilai bahwa konsistensi tetap menjadi kunci utama dalam persaingan ketat kategori GT3, meskipun berbagai rintangan sempat menghambat laju mereka di beberapa seri krusial.

"Dass wir vor dem Finale noch Titelchancen haben, ist ein gutes Zeichen. Drei Mal Dritter, einmal Erster ist okay – drei Mal null nicht. Normalerweise wirst du im WEC Meister, wenn du keinen Nuller hast. Vom Speed und der Performance her war die Saison in Ordnung. Vielleicht fehlte auch manchmal ein wenig Gluck, und wir machten auch einige Fehler. Le Mans schmerzt besonders, weil wir dort eigentlich sehr stark waren. Aber in Stunde zwei brach die Spurstange, wir verloren drei Runden, das war’s," ungkap Lietz menguraikan perjalanan musimnya, sebagaimana dilansir dari Speedweek.

- Advertisement -
Advertisement

Menghadapi seri penentuan di Sirkuit Monza, tantangan berat dipastikan menanti kubu Manthey. Mobil mereka harus membawa tambahan bobot seberat 30 kilogram sebagai konsekuensi atas kemenangan gemilang yang diraih pada seri sebelumnya di Barcelona. Di trek legendaris Italia yang terkenal dengan karakter kecepatan tinggi ini, beban ekstra tentu akan memberikan pengaruh signifikan terhadap performa pengereman dan akselerasi keluar tikungan lambat.

Baca Juga Nick Cassidy Bidik Kebangkitan Peugeot WEC Lewat Paket Evo 2027

Kendati demikian, pengalaman luas yang dimiliki oleh Lietz di Monza diharapkan mampu meredam kendala teknis tersebut. Pembalap senior ini tercatat pernah menjalani sesi pengujian selama dua hari di sirkuit berkarakteristik unik itu, serta memiliki rekam jejak panjang dari berbagai kejuaraan terdahulu seperti European Le Mans Series hingga Porsche Supercup. Mengenai masa depannya di dunia balap profesional bersama Porsche, kontrak sang pembalap memang akan segera berakhir, namun pembicaraan awal mengenai kelanjutan kerja sama telah mulai dilakukan.