Pandeglang, Nusantara Media  – Alarm serius kembali berbunyi bagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Pada Selasa, 21 April 2026, seorang siswa SDN Cijakan 2 Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menemukan belatung hidup di dalam makanan yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.


Ini bukan kejadian pertama. Menurut informasi yang beredar, temuan serupa sudah terjadi sebelumnya di sekolah yang sama, sehingga memicu kemarahan orang tua siswa dan pihak sekolah. Menu yang bermasalah kali ini berasal dari sayur dan daging yang dibagikan sebagai bagian dari program MBG.

Korban utama adalah siswa SDN Cijakan 2 Bojong, yang seharusnya menerima asupan gizi berkualitas melalui program pemerintah. Pemasok makanan adalah SPPG Cijakan yang berlokasi sangat dekat dengan sekolah. Pihak sekolah telah melakukan konfirmasi langsung ke SPPG, namun respons yang diberikan dinilai minim dan hanya bersifat reaktif.

Salah satu siswa menemukan belatung di dalam kemasan makanan (opreng) saat jam istirahat. Makanan tersebut langsung tidak dikonsumsi oleh siswa yang bersangkutan dan menjadi perbincangan di lingkungan sekolah. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran massif karena anak-anak berpotensi mengonsumsi makanan yang tidak higienis, yang bisa berdampak pada kesehatan seperti diare, infeksi, hingga keracunan makanan.

Kejadian berlangsung pada Selasa, 21 April 2026, di SDN Cijakan 2 Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten. Lokasi SPPG yang berdampingan dengan sekolah seharusnya memudahkan pengawasan, tetapi justru menunjukkan adanya kelalaian berulang dalam proses produksi, penyimpanan, atau distribusi.

Pihak SPPG hanya menawarkan solusi mengganti opreng atau makanan tersebut, tanpa penjelasan mendalam mengenai akar masalah standar kebersihan. Kritik pun bermunculan karena pendekatan ini dianggap tidak menyentuh masalah mendasar: higienitas pengolahan makanan, sanitasi dapur, hingga pengawasan rantai distribusi. Program MBG yang bertujuan baik justru berisiko merusak kepercayaan publik jika kasus serupa terus berulang.

Pihak sekolah menyatakan telah melaporkan kejadian ini secara resmi. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) atau Satgas MBG pusat mengenai langkah evaluasi menyeluruh. 

Orang tua siswa menuntut transparansi dan perbaikan sistem agar kejadian ini tidak terulang di sekolah lain.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi penyelenggara Program MBG nasional. Anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa harus dilindungi dari risiko pangan yang tidak aman. 

- Advertisement -

Evaluasi prosedur operasional SPPG, peningkatan standar higienitas, dan pengawasan ketat dari hulu ke hilir menjadi kebutuhan mendesak.

Program Makan Bergizi Gratis seharusnya menjadi solusi nyata mengatasi stunting dan kekurangan gizi. Namun, jika kualitas dan keamanan pangan tidak terjamin, program ini justru bisa menjadi boomerang.

 Pemerintah dan pengelola SPPG diminta segera melakukan audit menyeluruh, transparan, dan memberikan sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran.


Masyarakat dan orang tua diimbau tetap waspada serta melaporkan setiap temuan tidak wajar di program MBG untuk perbaikan bersama.