Pandeglang , Nusantara Media – Menjelang musim panen, masyarakat Kampung Pematang Sempur, Desa Cikeusik, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menggelar tradisi adat Mapag Sri pada Sabtu, 1 Februari 2026.
Tradisi Mapag Sri merupakan warisan budaya Sunda yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas datangnya Dewi Sri, simbol kesuburan, padi, dan kemakmuran. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, serta dihadiri oleh Enur selaku Kepala Desa Cikeusik, Kapten Inf Purgiarto selaku Danramil 0116/Cikeusik Kodim 0601/Pandeglang beserta Babinsa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta masyarakat petani setempat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Cikeusik Enur menyampaikan bahwa tradisi Mapag Sri mengandung banyak nilai luhur yang patut dijaga dan dilestarikan. Menurutnya, budaya ini mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan masyarakat, serta kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
“Mapag Sri bukan hanya tradisi, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk terus menjaga alam sebagai sumber kehidupan,” ujar Enur.
Lebih lanjut, Enur juga menekankan pentingnya pemahaman petani terhadap kewajiban zakat pertanian, khususnya terkait nisab zakat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Ia mengingatkan bahwa hasil pertanian yang telah mencapai nisab wajib dikeluarkan zakatnya sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian sosial.
Sementara itu, Danramil 0116/Cikeusik Kapten Inf Purgiarto menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kampung Pematang Sempur yang masih konsisten menjaga dan melestarikan budaya kearifan lokal. Menurutnya, tradisi Mapag Sri sarat dengan nilai-nilai positif yang sejalan dengan semangat persatuan, kebersamaan, serta ketahanan sosial masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi masyarakat yang masih mempertahankan tradisi adat seperti Mapag Sri. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat positif dan menjadi modal penting dalam menjaga keharmonisan sosial,” ungkap Danramil.
Lebih lanjut, tradisi Mapag Sri di Kampung Pematang Sempur diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya lokal sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, kepedulian sosial, dan kewajiban keagamaan dalam kehidupan masyarakat, khususnya para petani," pungkasnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!