Liam Lawson mengakui bahwa ambisinya di Formula 1 tidak lagi terikat hanya pada Red Bull. Setelah promosi singkatnya ke tim utama musim lalu, pembalap asal Selandia Baru itu kini lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan untuk meraih mimpi besarnya: menang di ajang balap paling bergengsi di dunia.
Pembalap berusia 24 tahun itu sempat merasakan puncak kebahagiaan ketika dipromosikan dari Racing Bulls ke Red Bull untuk musim 2025, mendampingi Max Verstappen. Itu adalah hadiah yang ia kejar sejak bergabung dengan program junior Red Bull sebagai remaja. Namun, kenyataan berkata lain. Hanya dua seri berjalan, ia dikirim kembali ke Racing Bulls sebagai bagian dari pertukaran dengan Yuki Tsunoda.
Pengalaman pahit itu mengubah cara pandang Lawson terhadap masa depannya di F1. Targetnya tetap sama: berada di barisan terdepan dan memenangkan balapan. Namun, ia tidak lagi mengaitkan ambisi itu dengan satu jalur karier tertentu.
"Saya pikir dulu mindset saya sangat spesifik: masuk ke Red Bull dan mencoba mencapai tim papan atas," ujar Lawson kepada PlanetF1. "Ketika saya masuk F1 dan masih muda, itu benar-benar yang ada di kepala saya."
Fokus itu memang wajar. Red Bull telah mendukung Lawson sejak awal, dan jalurnya tampak jelas: tampil impresif di Racing Bulls, dapatkan kesempatan di Red Bull, lalu bertarung di depan. Tetapi setelah masa singkatnya di Red Bull, Lawson kini mengambil pandangan yang lebih luas tentang kesuksesan di F1.
Baca Juga Carlos Sainz Kritik Keras Start F1 China 2026, Grid Kacau"Tapi sekarang, sejujurnya, tidak spesifik," tambahnya. "Seperti orang lain, saya bekerja menuju berada di depan dan memenangkan Formula 1, dan di mana itu, saya tidak tahu. Saya tidak terlalu ambil pusing, tapi itu yang saya perjuangkan."
Sikap baru ini justru membawa hasil positif. Lawson tampil impresif musim ini dan menjadi salah satu bintang di tengah persaingan ketat lini tengah F1. Duduk di posisi kesembilan klasemen pembalap dengan 43 poin setelah 11 seri, ia mencetak poin dalam delapan akhir pekan dan mencatatkan finis terbaiknya di posisi keenam sebanyak dua kali, yaitu di Monako dan Silverstone. Sebuah kebangkitan yang cukup kontras dengan situasinya 18 bulan lalu.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!