Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik baru setelah nota kesepahaman (MoU) Hormuz resmi berakhir pada Senin tanpa kesepakatan lanjutan. Presiden AS Donald Trump dengan lantang menyatakan bahwa Iran seharusnya "mengibarkan bendera putih" sebagai tanda menyerah, di tengah kebuntuan negosiasi yang semakin dalam.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim pemerintahannya sedang mengadakan pembicaraan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) – sebuah pernyataan yang langsung dibantah oleh pihak IRGC. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa pelanggaran "berat" dari AS membuat tenggat MoU menjadi "tidak relevan sama sekali". Ia juga memperingatkan bahwa pasukan Iran siap merespons jika diserang.
MoU yang ditandatangani pada Juni lalu sebenarnya dimaksudkan sebagai jalan keluar dari perang, namun kini hanya menjadi catatan sejarah. Komandan senior IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, mengumumkan bahwa postur pertahanan Iran akan beralih ke ofensif di bawah kebijakan baru "pencegahan maksimum". Ini adalah sinyal jelas bahwa Iran tidak akan tinggal diam.

Di sisi lain, Trump juga memerintahkan Pentagon untuk mengurangi skala latihan tahunan dengan Korea Selatan, dengan alasan Seoul menolak bergabung dalam "denuklirisasi" Iran. Langkah ini menunjukkan prioritas kebijakan luar negeri AS yang sedang fokus pada tekanan terhadap Iran, meskipun mengorbankan hubungan sekutu.
Baca Juga Ngeri! Balon Udara Meledak di Langit Brasil, 8 Tewas Terbakar, Keranjang Jatuh Berapi!Sementara itu, Hamas menyerukan Dewan Perdamaian untuk "memaksa" Israel menerima rencana perdamaian Gaza. Seruan ini muncul setelah delegasi Hamas yang dipimpin Kepala Politiknya, Khalil al-Hayya, bertemu dengan menantu Trump, Jared Kushner, di Alamein, Mesir. Namun, politisi Palestina Mustafa Barghouti mengecam AS yang dianggap memberi "kartu bebas" kepada Netanyahu untuk terus menghindari komitmennya terhadap implementasi rencana tersebut.
Dengan berakhirnya MoU dan meningkatnya retorika perang, dunia kini menunggu langkah selanjutnya. Apakah akan terjadi eskalasi militer atau justru pembukaan kembali jalur diplomasi? Yang jelas, kebuntuan ini meninggalkan ketidakpastian besar di kawasan Timur Tengah.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!