Universitas Nasional Singapura (NUS) kembali membuktikan diri sebagai pionir pendidikan tinggi di Asia dengan langkah berani mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam ekosistem kampus. Mulai tahun akademik 2026/2027, seluruh mahasiswa, dosen, dan staf akan mendapatkan akses gratis ke ChatGPT, sekaligus mahasiswa baru diwajibkan mengambil mata kuliah AI generatif. Kebijakan ini diumumkan bersamaan dengan kemitraan resmi antara NUS dan OpenAI pada pertengahan Agustus.
Melalui kerja sama tersebut, sivitas akademika NUS akan menggunakan ChatGPT Edu, layanan khusus institusi pendidikan yang menawarkan privasi, keamanan, dan kontrol administratif tingkat tinggi. NUS menegaskan bahwa data dan percakapan di lingkungan kampus tidak akan digunakan untuk melatih model AI OpenAI. Ini menjadi langkah strategis untuk memastikan adopsi AI berjalan etis dan aman.
Deputy President (Academic Affairs) sekaligus Provost NUS, Profesor Aaron Thean, menegaskan bahwa kehadiran AI di kampus bukan untuk menggantikan peran manusia. "Kami bertujuan memanfaatkan teknologi AI canggih ini bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai penguat kemampuan intelektual, kreativitas, dan penilaian manusia," ujarnya.
Mahasiswa baru angkatan 2026/2027 diwajibkan mengambil mata kuliah dasar bertajuk THE1008 Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation. Kurikulum ini menjadi bagian dari program Transition to Higher Education (T.H.E.) dan dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis sekaligus pemikiran kritis. Mereka tidak hanya belajar teknik prompting, tetapi juga dilatih mengevaluasi dan memvalidasi keluaran dari Large Language Model (LLM) serta perangkat AI multimodal lainnya.
Baca Juga The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to AaliyahChief Information Technology Officer sekaligus Vice President NUS, Tan Shui-Min, menekankan pentingnya keamanan data dalam integrasi AI. "Seiring AI semakin terintegrasi dalam operasional NUS, penting bagi kami untuk mengadopsinya secara aman, terukur, dan berkelanjutan," jelasnya.
Untuk menghindari ketergantungan pada satu vendor, NUS berencana membuka kolaborasi dengan berbagai perusahaan teknologi lainnya. Langkah ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi beragam platform AI sesuai kebutuhan akademik dan profesional mereka kelak. Dengan kebijakan ini, NUS tidak hanya mempersiapkan lulusannya menghadapi era digital, tetapi juga menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain di kawasan Asia.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!