Lingga, Nusantara Media – Di penghujung Januari 2026, hujan belum juga turun selama empat bulan terakhir, menyebabkan kekeringan parah di beberapa wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya di Kecamatan Singkep Barat, mengalami kesulitan mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kemarau panjang telah mengeringkan sumber air utama, termasuk Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Paras Klubi, Desa Sungai Harapan. Air tidak lagi mengalir ke rumah-rumah warga di Desa Kualaraya, Sungai Harapan, dan Bukit Belah. Hal ini memicu keresahan di kalangan masyarakat, terutama menjelang bulan puasa yang tinggal hitungan minggu.
Warga desa-desa tersebut menjadi korban utama. Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Cabang Kecamatan Singkep Barat, Misran Ms, mengonfirmasi keluhan masyarakat. "Memang benar, hujan tidak turun sudah lama, membuat resah warga," ujarnya saat dikonfirmasi media. Ia menambahkan bahwa antisipasi dilakukan dengan mengajak warga membersihkan sumur-sumur lama secara gotong royong untuk diaktifkan kembali.
Di sisi lain, salah seorang warga Desa Bukit Belah, Pudin (27 tahun), menyampaikan keluhannya. "Air PAM sudah tidak mengalir lagi, kami kesulitan mengangkat air setiap hari karena hujan lama tak turun," imbuhnya.
Kondisi kekeringan telah berlangsung sejak empat bulan lalu, dan semakin parah memasuki akhir Januari 2026. Dengan bulan puasa yang akan segera tiba, situasi ini semakin mendesak.
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Desa-desa yang paling terdampak adalah Kualaraya, Sungai Harapan, dan Bukit Belah, dengan sumber air utama berasal dari Pamsimas di Paras Klubi.
Penyebab utama adalah kemarau panjang tanpa hujan selama empat bulan, yang mengakibatkan penurunan debit air di sumber-sumber alam dan infrastruktur seperti Pamsimas. Perubahan iklim dan kurangnya hujan musiman memperburuk situasi, membuat sumur dan sungai mengering.
Pihak Apdesi telah mengarahkan warga untuk melakukan gotong royong membersihkan sumur-sumur bekas agar bisa digunakan kembali. Ini menjadi solusi sementara sambil menunggu hujan atau bantuan dari pemerintah daerah. Masyarakat diimbau untuk hemat air dan mencari alternatif sumber air bersih.
Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur air di daerah rawan kekeringan, terutama di pulau-pulau kecil seperti Lingga. Warga diharapkan tetap waspada dan saling bantu hingga musim hujan tiba.