Jakarta, Nuantara Media – Kericuhan meletus di depan Markas Brimob Polda Metro Jaya di Kwitang, Jakarta Pusat, ketika ratusan pengemudi ojek online (ojol) melakukan protes. Kerusuhan ini dipicu oleh kematian Affan Kurniawan (20), seorang pengemudi ojol yang tewas akibat ditabrak kendaraan taktis Brimob di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
Protes yang dimulai pada Kamis malam meningkat pada Jumat sore. Para demonstran yang marah melemparkan batu, botol, petasan, dan bom molotov ke arah markas, merusak kendaraan, pos polisi, dan pembatas jalur TransJakarta yang mereka bakar. Beberapa mobil terbakar dalam kekacauan tersebut. Gas air mata memenuhi udara, dengan para pengunjuk rasa menggunakan pasta gigi untuk mengurangi efeknya.
Pasukan TNI dari Angkatan Darat dan Marinir berusaha berdialog untuk menenangkan situasi, sempat memulihkan ketertiban. Namun, ketegangan kembali memanas ketika para pengunjuk rasa menolak mediasi di dalam markas, menuntut diskusi terbuka. “Bawa Brimob keluar!” teriak seorang demonstran. Hingga sore hari, massa tetap bertahan di Kwitang, menyebabkan kemacetan parah hingga flyover Senen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden Prabowo Subianto berjanji akan melakukan investigasi transparan. Meski demikian, protes menyebar ke kota-kota seperti Solo dan Yogyakarta, dengan ratusan pengemudi ojol menuntut keadilan.
Masyarakat mengutuk tindakan represif polisi, menyerukan hukuman berat bagi yang bertanggung jawab. “Polisi seharusnya melindungi, bukan membunuh!” kata Galuh, seorang pengemudi ojol, di luar markas Brimob.
Penulis : David