LAMPUNG, Nusantara Media – Aktivitas vulkanik di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan. Gunung Anak Krakatau yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dilaporkan kembali mengalami erupsi pada Rabu dini hari, 8 Juli 2026.

Berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), letusan tersebut terjadi tepat pada pukul 00:11 WIB.

Peristiwa alam ini menjadi pengingat bagi masyarakat pesisir dan pengguna jalur laut akan dinamika gunung api yang masih terus aktif tersebut.

- Advertisement -

Meski terjadi letusan, petugas di Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau melaporkan bahwa tinggi kolom abu vulkanik tidak dapat teramati. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kondisi cuaca atau gelapnya malam saat erupsi berlangsung.

Namun, bukti terjadinya erupsi terekam sangat jelas pada instrumen pemantauan.

"Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 milimeter dan durasi kurang lebih 40 detik," demikian bunyi keterangan tertulis dari laman resmi MAGMA Indonesia yang dirilis pada Rabu (8/7/2026).

Getaran seismik yang terekam menunjukkan adanya dorongan energi magma dari dalam perut gunung menuju ke permukaan.

Merespons aktivitas vulkanik terkini ini, pihak PVMBG menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan pada Status Level III atau Siaga.

Status ini menandakan bahwa gunung api tersebut sedang mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan dan berpotensi menimbulkan ancaman bahaya bagi area di sekitarnya.

Oleh karena itu, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas demi keselamatan nyawa masyarakat. "Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," tegas pihak Badan Geologi KESDM.

Zona merah sejauh 3 kilometer ini mutlak harus dihindari oleh siapapun, termasuk para nelayan yang kerap mencari ikan di perairan Selat Sunda, maupun kapal-kapal pariwisata.

Material vulkanik, awan panas, hingga lontaran batu pijar bisa sewaktu-waktu terlontar hingga mencapai radius tersebut, yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.

Selain itu, PVMBG juga mengimbau masyarakat pesisir di Banten dan Lampung untuk tetap tenang namun waspada, serta tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (hoaks).

Masyarakat diminta untuk selalu merujuk pada informasi resmi terkait kebencanaan gunung api.

Bagi masyarakat yang ingin memantau perkembangan terkini aktivitas Gunung Anak Krakatau, dapat mengakses secara langsung melalui aplikasi atau situs web resmi MAGMA Indonesia