LAMPUNG, Nusantara Media - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali menunjukkan tanda-tanda gejolak alam yang patut diwaspadai.

Pada periode pengamatan hari ini, Selasa, 7 Juli 2026, teramati secara jelas adanya kepulan asap tebal berwarna hitam pekat yang menyembur dari kawah aktif gunung api tersebut.

Kondisi fluktuatif ini membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah naungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) terus bersiaga penuh.

- Advertisement -

Berdasarkan data evaluasi terkini, status Gunung Anak Krakatau secara resmi masih dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Berdasarkan laporan resmi aktivitas gunung api yang disusun oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, untuk periode pengamatan pukul 12:00 hingga 18:00 WIB,

kondisi visual gunung api yang memiliki ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini umumnya terlihat jelas, meski sesekali tertutup oleh kabut dengan skala 0-I.

"Gunung jelas hingga kabut 0-I. Asap kawah teramati berwarna putih, kelabu, dan hitam dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 10-200 meter di atas puncak kawah," tulis Muhammad Dika Nurzaman dalam laporan tertulisnya, Selasa (7/7/2026).

Keterangan tambahan pada laporan tersebut juga secara khusus menyoroti adanya fenomena visual berupa "Asap Tebal Berwarna Hitam". Munculnya asap hitam pekat ini umumnya mengindikasikan tingginya konsentrasi abu dan material vulkanik yang dilepaskan ke udara akibat tekanan dari dalam kawah.

Sementara itu, dari segi kondisi meteorologi di sekitar kawasan cagar alam Gunung Anak Krakatau, cuaca dilaporkan terpantau cerah dan berawan.

Angin bertiup dalam kondisi lemah dengan arah pergerakan menuju ke barat laut, yang secara otomatis membawa material emisi vulkanik menyebar ke arah tersebut. Untuk suhu udara di sekitar pos pengamatan tercatat berada pada rentang 29.2 hingga 30.8 derajat Celcius,

diiringi dengan tingkat kelembaban udara yang mencapai 70 hingga 72 persen. Cuaca yang cukup bersahabat ini memungkinkan para petugas untuk memantau kondisi visual secara optimal.

Di samping pemantauan visual, instrumen seismograf PVMBG juga merekam adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang terus berlangsung di perut Gunung Anak Krakatau.

Selama enam jam periode pengamatan di siang hingga sore hari, alat pemantau merekam 9 kali gempa Hembusan dengan amplitudo berkisar antara 4.7 hingga 11 milimeter dan durasi gempa selama 20 hingga 47 detik.

Gempa jenis ini lazimnya merepresentasikan adanya proses pelepasan gas vulkanik dari area kawah.

Lebih lanjut, aktivitas seismik juga diramaikan oleh 12 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplitudo 2.9 hingga 22.2 milimeter dan durasi yang terbilang cukup panjang, yaitu antara 35 hingga 1477 detik. Petugas juga mencatat 1 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 7.1 milimeter,

nilai S-P 0 detik, serta durasi selama 24 detik. Aktivitas Tremor Menerus (Microtremor) juga terus terekam tanpa henti dengan amplitudo 1 hingga 6 milimeter, di mana nilai amplitudo dominan berada di angka 1 milimeter.

Menyikapi perkembangan aktivitas vulkanik yang dinamis serta potensi bahaya yang mengintai, PVMBG mengeluarkan rekomendasi dan peringatan tegas kepada seluruh lapisan publik.

Masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, maupun para pendaki diimbau dengan sangat keras untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau, atau melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Radius aman sejauh 3 kilometer tersebut diberlakukan semata-mata demi keselamatan, guna menghindari ancaman bahaya lontaran batu pijar, sapuan awan panas, maupun paparan hujan abu vulkanik pekat yang bisa membahayakan nyawa dan terjadi sewaktu-waktu.

Masyarakat di sekitar perairan pesisir Banten dan Lampung diminta untuk tetap tenang, menjalankan aktivitas seperti biasa di luar zona bahaya, serta senantiasa memantau informasi resmi.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing oleh isu hoaks atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumbernya