Serang ,Nusantara Media - Wakil Gubernur (Wagub) Banten Achmad Dimyati Natakusumah, secara resmi membuka rangkaian Seba Baduy 2026 di Alun-Alun Barat Kota Serang, Provinsi Banten, Jumat (24/4/2026).

Tradisi tahunan masyarakat adat Baduy, akan diikuti sekitar 2.000 warga yang datang untuk melaksanakan ritual sekaligus menjalin silaturahmi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

Suku Baduy, adalah sebuah suku etnis Sunda yang mendiami wilayah Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

- Advertisement -

Sama seperti kebanyakan suku lainnya di Indonesia, Suku Baduy hidup berdampingan dengan alam sekitarnya. Meski tidak tinggal di hutan, orang-orang Baduy sangat menghargai hutan yang telah memberikan kehidupan bagi mereka.

Tidak seperti kebanyakan suku Indonesia yang terdiri dari satu golongan yang mendiami satu wilayah yang sama. Orang-orang dari Suku Baduy berbeda.

Meski sama-sama orang Baduy dan tinggal di wilayah Pegunungan Kendeng, Suku Baduy terbagi menjadi dua golongan, yakni Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar.

Bagi orang luar yang belum mengenal Suku Baduy, mungkin tidak akan menemukan perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Padahal sebenarnya, dua golongan ini memiliki beberapa perbedaan.

Perbedaan yang pertama yang paling mencolok, dapat dilihat dari warna berpakaian mereka. Orang Baduy Luar, biasanya memakai pakaian berwarna hitam atau biru tua. Sedangkan orang Baduy Dalam memilih pakaian berwarna putih.

Perbedaan warna pakaian ini, sebenarnya juga memiliki makna sendiri. Pakaian Suku Baduy Luar yang sering dipakai, berwarna hitam atau biru yang berarti kesederhanaan.

Pakaian orang Baduy Dalam yang berwarna putih, melambangkan kesucian sekaligus tanda, bahwa mereka masih tetap teguh memegang adat istiadat nenek moyang mereka dan menolak kehadiran teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Baduy Dalam, sangat tertutup dan menggantungkan hidupnya kepada alam. Dibandingkan dengan orang Baduy Dalam, orang Baduy Luar sudah lebih terbuka dengan budaya luar.

Mereka mulai mandi menggunakan sabun, menggunakan barang elektronik, bahkan dengan senang hati menerima turis asing yang datang berkunjung, dan mengizinkan turis-turis ini untuk menginap di rumah mereka.

Orang Buduy Luar, tinggal di lima puluh kampung yang tersebar di berbagai wilayah kaki Gunung Kendeng.

Sedangkan Orang Baduy Dalam, tinggal di tiga kampung, yaitu Kampung Cikeusik, Kampung Cikertawana dan Kampung Cibogo yang dipimpin oleh Ketua Adat yang dikenal dengan sebutan Pu'un, serta terpisah dari kampung Baduy Luar.

Dimyati mengatakan, masyarakat Baduy merupakan bagian dari keluarga besar Banten yang konsisten menjaga nilai-nilai luhur kehidupan.

"Baduy ini, saudara kita. Mereka menjaga alam, budaya, adat istiadat, disiplin, hidup dari usaha bertani, serta memiliki keyakinan yang kuat. Itu yang harus diteladani," ujar Dimyati.

Ia menambahkan, kehidupan masyarakat Baduy yang sederhana tanpa ketergantungan pada teknologi modern, menjadi contoh penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan lingkungan.

"Mereka tidak tergoda gaya hidup berlebihan. Fokus menjaga alam, hutan, sungai, dan kehidupan yang harmonis. Ini selaras dengan semangat pembangunan lingkungan yang asri," katanya.

Wagub menyampaikan, Pemprov Banten berkomitmen menjaga kelestarian masyarakat Baduy dengan tetap menghormati adat dan keinginan mereka.

Ia juga mengaku bangga terhadap masyarakat Baduy yang tetap taat pada aturan adat serta hidup damai tanpa konflik sosial.

"Pemerintah hadir, untuk mendukung kebutuhan masyarakat Baduy tanpa mengganggu adatnya. Yang utama, adalah menjaga lingkungan dan memenuhi kebutuhan dasar mereka agar tetap hidup tenang dan sejahtera," ujarnya.

Seba Baduy, merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Suku Baduy (Urang Kanekes) di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang dilaksanakan setiap tahun setelah panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Sebelum melaksanakan Seba, masyarakat Baduy terlebih dahulu melaksanakan rangkaian Seba kepada Pemerintah Kabupaten Lebak. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Kota Serang untuk melaksanakan Seba kepada “Bapak Gede”, yakni Gubernur Banten, Andra Soni.

Perjalanan tersebut, ditempuh dengan berjalan kaki dari Desa Kanekes menuju Rangkasbitung hingga Kota Serang sebagai simbol ketulusan, kesederhanaan, dan ketaatan terhadap adat.

Rangkaian kegiatan Seba Baduy 2026, akan berlangsung selama tiga hari, hingga Minggu (26/4/2026).

Pada hari pertama, Jumat (24/4/2026), kegiatan diawali dengan pembukaan Pasar Kerajinan Baduy dan UMKM serta diskusi budaya yang membahas peran masyarakat Baduy dalam menjaga ekosistem.

Malam harinya, panggung hiburan diisi pertunjukan seni dari Arkaistone, Hiart Dance Company, dan Ubrug Seniki Cilegon.

Memasuki hari kedua, pada Sabtu (25/4/2026), masyarakat Baduy tiba di Kota Serang dan disambut melalui Karnaval “Rampak Seba Nusantara”.

Rangkaian kegiatan, akan ditutup pada Minggu (26/4/2026) dengan tradisi Mumuluk atau sarapan bersama, dilanjutkan pelepasan ke Seba Panungtung di Pendopo Kabupaten Serang.