Pandeglang, Nusantara Media – Cuaca ekstrem kembali menerjang wilayah Banten dengan ganas. Hujan lebat disertai angin kencang pada Sabtu, 10 Januari 2026, memicu luapan dahsyat Sungai Cilemer yang sudah menjadi 'langganan' banjir di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang -Banten. Permukiman warga Desa Idaman kini tenggelam dalam genangan air tinggi, meninggalkan ratusan keluarga dalam ketakutan dan keterisoliran.

Menurut data resmi dari Desa Idaman, banjir paling parah menyerang empat kampung utama:

- Kampung Tajur : 160 Kepala Keluarga (KK) terdampak  
- Kampung Karang Tengah : 165 KK  
- Kampung Sindang Rahayu : 87 KK  
- Kampung Tongkol Cipariuk : 10 KK  

Total 422 KK atau sekitar 1.266 jiwa terperangkap dalam banjir ini. Debit air Sungai Cilemer masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda surut sepenuhnya hingga Minggu sore ini, membuat warga bertahan di rumah dengan persediaan makanan dan air bersih yang semakin menipis.

  
Yang lebih memprihatinkan, hingga kini pemerintah daerah Pandeglang belum terlihat memberikan respons cepat. Warga terisolasi tanpa akses bantuan logistik, evakuasi darurat, atau bantuan dasar lainnya. Padahal, BMKG terus mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem yang berpotensi berlanjut hingga akhir Januari 2026, termasuk hujan lebat, petir, dan angin kencang yang bisa memperburuk luapan sungai.

Banjir ini bukan kejadian pertama. Sepanjang 2025, Desa Idaman sudah dilanda banjir berulang kali—bahkan tercatat hingga enam kali—akibat kurangnya penanganan permanen seperti pengerukan sungai, normalisasi aliran, atau pembangunan tanggul yang memadai. Warga kini menuntut tindakan tegas dari pemerintah pusat dan daerah agar bencana serupa tak lagi berulang di musim hujan yang masih panjang ini. 
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Banten, termasuk Pandeglang, sejak awal Januari 2026. Faktor seperti pengaruh siklon tropis dan dinamika atmosfer regional membuat curah hujan meningkat drastis, memicu banjir dan ancaman hidrometeorologi lainnya.

Warga Desa Idaman kini berada dalam ketegangan tinggi, bertahan di tengah air bah sambil menanti bantuan. Apakah evakuasi dan logistik segera tiba? Atau masyarakat harus terus berjuang sendiri melawan alam yang semakin tak bersahabat?