Lingga, Nusantara Media - Angin kencang dan gelombang tinggi masih mendominasi wilayah pesisir Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, di awal Januari 2026. Kondisi cuaca ekstrem ini telah menjadi pola tahunan yang dimulai sejak akhir tahun sebelumnya, dan belum menunjukkan tanda-tanda perubahan meskipun sudah memasuki bulan suci Ramadhan serta perayaan Imlek. Air pasang tinggi bahkan sempat masuk ke pemukiman warga, meski tidak menimbulkan korban jiwa atau kerugian material signifikan.

Kepala Desa (Kades) Kualaraya, Misran, memberikan konfirmasi resmi mengenai situasi ini. Ia menyampaikan himbauan dari pemerintah desa kepada warga, khususnya nelayan, untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di laut. Selain itu, seorang nelayan setempat bernama Jang (35 tahun) berbagi pengalaman pribadinya, menjelaskan bagaimana cuaca buruk ini memengaruhi mata pencaharian mereka sepanjang tahun.

Kondisi cuaca ini telah berlangsung sejak akhir Desember 2025 menyambut tahun baru 2026, dan masih kuat hingga awal Januari 2026. Konfirmasi spesifik diberikan pada Jumat, 6 Januari 2026, pukul 13.00 WIB. Pola ini biasanya berlanjut hingga selesainya perayaan Imlek, yang tahun ini bertepatan dengan periode Ramadhan.

Fenomena ini terjadi di Desa Kualaraya dan sekitarnya, yang terletak di wilayah pesisir Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Daerah ini dikenal sebagai kawasan nelayan dengan garis pantai yang rentan terhadap perubahan cuaca musiman.

Menurut Kades Misran, ini adalah "agenda tahunan" yang disebabkan oleh pola musim angin dan gelombang di wilayah pesisir Kepulauan Riau. Faktor musiman ini dipengaruhi oleh perubahan iklim dan arus laut di Selat Malaka, yang semakin intensif menjelang akhir tahun hingga awal tahun baru. Warga seperti Jang menambahkan bahwa angin tetap kuat hingga selesai Imlek, membuat laut tidak bersahabat untuk aktivitas penangkapan ikan.

Cuaca buruk ini menyebabkan nelayan hanya bisa beroperasi secara rutin selama sekitar tujuh bulan dalam setahun, ketika angin dan gelombang relatif teduh. Pada periode sisanya, seperti sekarang, mereka beralih ke pekerjaan darat untuk mencari nafkah. Pemerintah desa secara aktif mengingatkan warga melalui himbauan untuk berhati-hati, termasuk memantau prakiraan cuaca sebelum turun ke laut. Meski air pasang masuk ke pemukiman, masyarakat setempat telah terbiasa dan tidak mengalami dampak parah berkat adaptasi lokal.