Pemberhentian Formula 1 di Sirkuit Marina Bay, Singapura, menyisakan cerita pelik bagi Lewis Hamilton yang harus rela kehilangan tiga posisi penting setelah mengambil keputusan strategi yang keliru. Berada di posisi ketiga saat balapan berjalan, sang juara dunia harus puas finis di posisi keenam setelah memaksakan diri bertahan di lintasan dalam balapan yang penuh tekanan teknis. Situasi ini langsung memicu sorotan tajam dari para pengamat dan media internasional terhadap garasi tim Kuda Jingkrak.

Prinsipal Tim Ferrari, Fred Vasseur, mau tidak mau harus menghadapi rentetan pertanyaan dari awak media usai balapan berakhir. Sebagian besar pertanyaan tersebut berpusat pada keputusan taktis yang membuat Hamilton merosot dari barisan depan akibat menolak masuk pit saat periode Virtual Safety Car. Keputusan itu memaksa sang pembalap menjalani tugas berat menyelesaikan 44 putaran menggunakan ban kompon lunak, sebuah pertaruhan jarak jauh yang akhirnya berbuah petaka di fase akhir lomba.

Dalam 22 putaran terakhir usai netralisasi balapan, catatan waktu lap menunjukkan kemunduran drastis di mana Hamilton kehilangan rata-rata 2,5 detik per putaran dibandingkan rekan setimnya, Charles Leclerc. Kerugian waktu yang masif inilah yang membuka celah bagi para pesaing di belakang untuk menyalip, hingga akhirnya ia harus puas finis di belakang pembalap muda serta barisan McLaren. Kondisi fisik Hamilton yang kurang bugar selepas balapan membuatnya harus absen dari kewajiban menemui media dan langsung menuju pusat medis.

- Advertisement -
Advertisement

Fred Vasseur secara terbuka menjelaskan bagaimana komunikasi radio di dalam garasi berlangsung tegang saat momen krusial tersebut terjadi di atas lintasan Marina Bay. Vasseur menegaskan bahwa instruksi awal dari dinding pit sudah sangat jelas untuk segera melakukan pergantian ban demi mengamankan posisi poin maksimal tim. Namun, dinamika di dalam kokpit memunculkan keputusan berbeda dari sang pembalap yang merasa memiliki insting lebih baik mengenai kondisi ban saat itu.

"Itu sangat jelas. Kami berada di posisi P2 dan P3 di trek. Kami memanggil dua mobil, 'Teman-teman, kalian masuk pit di belakang VSC'. Salah satu pembalap saya berkata, 'Tidak, saya lebih suka bertahan di trek'. Atau dia tidak berkata demikian – dia berkata, 'Saya melewatkan pintu masuk pit'. Jangan salahkan tim," ujar Vasseur menegaskan duduk perkara insiden tersebut kepada para jurnalis.

Baca Juga Antonelli Hindari Ferrari, Chandhok: Keputusan Terbaik Sang Ayah

Meskipun mengakui bahwa keputusan tersebut berujung pada hasil yang mengecewakan, Vasseur juga mencoba bersikap objektif mengenai dilema klasik antara data teknik insinyur dan perasaan langsung seorang pembalap di dalam kokpit. Menurutnya, tim sering kali dituntut untuk mendengarkan masukan pembalap karena mereka yang merasakan langsung degradasi ban di atas aspal panas. Namun, untuk kasus di Singapura, hasil akhir membuktikan bahwa intuisi tersebut adalah sebuah kekeliruan besar.

Melalui pernyataan resmi yang dirilis tim setelah balapan untuk menggantikan kehadiran sang pembalap di ruang media, Hamilton mengakui kesalahannya dan menyebut akhir pekan ini sebagai pengalaman yang mahal. Pembalap asal Inggris tersebut menyatakan bahwa dirinya mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan strategi yang dipilihnya sendiri di tengah ketatnya persaingan sirkuit jalan raya Marina Bay.

Lewis Hamilton Ferrari Singapore GP