Era keemasan Ferrari pada awal tahun 2000-an tidak pernah bisa dilepaskan dari kerja keras dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pembalapnya di balik layar. Di saat Michael Schumacher merayakan kemenangan di atas podium utama, rekan setimnya asal Brasil, Rubens Barrichello, kerap menghabiskan waktu berjam-jam menaklukkan aspal sirkuit demi menyempurnakan mahakarya teknik asal Maranello tersebut. Peran krusial ini menjadi fondasi kokoh bagi dominasi Scuderia Ferrari pada era milenium baru yang penuh sejarah.
Baru-baru ini, pembalap yang akrab disapa Rubinho itu mengenang kembali momen-momen melelahkan sekaligus berkesan ketika ia harus melahap ribuan kilometer pengujian demi menguji ketahanan mobil Ferrari F1-2000. Di balik kerja keras yang menguras tenaga fisik dan mental tersebut, terdapat sebuah kisah unik yang melibatkan Direktur Teknik legendaris saat itu, Ross Brawn, serta sebuah hadiah kuliner khas Italia yang sangat menggugah selera.
Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang hangat di Monza, Barrichello menceritakan bagaimana dirinya harus mengubur impian untuk segera pulang menemui keluarganya demi tugas negara dari tim. Pengorbanan tersebut berawal ketika ia baru saja menyelesaikan rangkaian pekan balap yang panjang di Imola, di mana ia sudah berada di sirkuit sejak hari Kamis hingga Minggu tanpa henti.
"Ricordo che ero in Italia per il Gran Premio di Imola ed ero stato in pista dal giovedi a domenica," kenang Barrichello menceritakan awal mula kejadian tersebut. Ia sangat menantikan momen kepulangan untuk bisa memeluk putranya yang saat itu masih berusia satu tahun, namun panggilan tugas dari garasi merah mengubah segalanya seketika.
Telepon dari sang kepala teknik langsung membuyarkan rencana liburan singkat sang pembalap Brasil tersebut. Ross Brawn memintanya untuk segera meluncur ke Sirkuit Mugello mulai hari Selasa demi menjalani sesi pengujian privat yang sangat krusial bagi pengembangan mobil balap F1-2000.
"Non vedevo l’ora di tornare a casa per stare con mio figlio piccolo che all’epoca aveva un anno ma mi chiama Ross Brawn che mi dice che c’e bisogno di me da martedi a Mugello per dei test," lanjut Barrichello menggambarkan situasi pelik yang dihadapinya saat itu di tengah kelelahan yang luar biasa.
Tanpa bisa menolak kebutuhan tim, ia menghabiskan hari-hari berikutnya berputar sendirian di atas lintasan Mugello yang menantang hingga hari Kamis tiba. Namun, drama kecil kembali terjadi tepat ketika ia hendak merapikan barang-barang bawaannya di bagasi untuk bersiap pulang setelah sepekan penuh bekerja keras.
Ross Brawn secara mengejutkan datang langsung menghampirinya di sirkuit untuk menyampaikan sebuah pengumuman yang membawa dua kabar sekaligus bagi sang pembalap penguji setia. "Rubens c’e una notizia buona e una notizia brutta per te," ujar Barrichello menirukan ucapan sang bos legendaris.
Kabar buruk yang harus diterima oleh Barrichello adalah perpanjangan waktu uji coba selama satu hari lagi di keesokan harinya, yang praktis menambah beban kelelahan fisiknya. Namun, kabar baik yang menyertainya mampu meredakan kekecewaan seketika karena ia dijanjikan jamuan makan malam mewah berupa hidangan daging sapi terbaik di Firenze.
Baca Juga Rosberg Dukung Keputusan Mercedes di GP Belanda: Russell Rela Kalah"La brutta e che rimani anche domani per un’altra giornata di test, la buona e che ti offro la miglior bistecca fiorentina del mondo in un ristorante di Firenze," kenang Barrichello sambil mengenang kelezatan Bistecca Fiorentina legendaris yang dibayarkan langsung oleh atasannya tersebut.
Kenangan manis itu rupanya masih membekas kuat hingga puluhan tahun kemudian dalam benak mantan pembalap Formula 1 tersebut. Beberapa waktu lalu, ia bahkan sempat kembali berkunjung ke restoran yang sama di Firenze dan mengirimkan foto kenangan tersebut kepada sang mantan bos.
"E aveva ragione e meno male che Ross ha pagato anche il vino. Ci sono tornato di recente in quel ristorante e gli ho mandato una foto scrivendogli ‘Grazie ancora Ross, mi manchi’," tutur Barrichello menutup cerita bernuansa nostalgia yang mempererat persahabatan di antara mereka.
Di luar kisah kuliner yang menyenangkan, pengujian di Mugello pada masa itu menuntut konsentrasi tingkat tinggi yang menguras tenaga secara masif. Barrichello mengungkapkan bahwa dalam satu hari penuh, seorang pembalap bisa menempuh jarak lebih dari 600 kilometer sendirian di dalam kokpit mobil.
Beban kerja tersebut setara dengan jarak tempuh dua balapan penuh dalam satu hari pengujian yang melelahkan. Tekanan mental pun mencapai puncaknya ketika mobil melaju kencang di tikungan cepat, memunculkan kekhawatiran konstan akan ketahanan mesin di tengah kecepatan tinggi.
"In quel periodo facevamo oltre 600 chilometri un giorno in pista con un solo pilota, l’equivalente di due gare e e a fine giornata al Mugello la testa inizia a pensare ‘speriamo che la macchina non si rompa all’Arrabbiata-2’. Una stanchezza mentale notevole," pungkas Barrichello mengakhiri kisahnya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!