LAMPUNG, Nusantara  Media - Masyarakat pesisir Selat Sunda dan wisatawan diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan laporan terkini dari Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status gunung berapi ikonik ini resmi dinaikkan ke **Level III (Siaga), Kamis, 9 Juli 2026.

Keputusan peningkatan status ini diambil setelah pengamatan intensif pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB menunjukkan adanya tanda-tanda ketidakstabilan yang signifikan pada kawah gunung tersebut.

- Advertisement -

Rioboniek Situmorang, penyusun laporan dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, memaparkan bahwa secara visual, gunung yang memiliki ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini teramati jelas hingga kabut tipis.

Asap kawah dengan tekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan ketinggian kolom asap mencapai 150 meter di atas puncak.

Data kegempaan menjadi sorotan utama para ahli geologi. Tercatat sebanyak 6 kali kejadian Tremor Harmonik dengan amplitudo besar, yakni antara 24,5 hingga 51,4 mm, dengan durasi yang bervariasi antara 63 hingga 289 detik.

Selain itu, alat perekam gempa juga mencatat adanya tremor menerus (*microtremor*) dengan amplitudo dominan di angka 8 mm.

"Kombinasi antara peningkatan tremor harmonik dan aktivitas asap kawah ini merupakan indikator kuat adanya dinamika di bawah permukaan yang berpotensi memicu erupsi," ungkap tim pemantau dalam rilis resminya.

Menanggapi kenaikan status ke Level III (Siaga), PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas bagi seluruh pihak:

Masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang keras mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Warga di wilayah pesisir Lampung Selatan dan sekitarnya diminta tetap tenang namun terus memantau perkembangan melalui kanal resmi.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya dan tidak menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi atau berita bohong (hoax) yang berpotensi memicu kepanikan di tengah masyarakat.

Anak Krakatau yang lahir dari sisa-sisa letusan dahsyat tahun 1883 memang dikenal memiliki karakteristik aktivitas yang fluktuatif. Sebagai gunung api yang cukup aktif, posisinya di Selat Sunda menjadikannya objek yang terus dipantau selama 24 jam oleh PVMBG melalui sistem real-time.

Bagi masyarakat dan wisatawan yang membutuhkan informasi akurat mengenai status terkini gunung berapi di Indonesia, dapat mengakses situs resmi magma.esdm.go.id secara berkala.

Kewaspadaan dini dan kepatuhan terhadap rekomendasi otoritas berwenang merupakan kunci utama dalam mitigasi bencana di kawasan rawan letusan gunung api.

Pihak berwenang akan terus memperbarui status perkembangan gunung ini. Masyarakat diharapkan tetap mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan menjaga koordinasi dengan aparat desa atau otoritas keamanan wilayah.