Menjelang akhir pekan balapan Formula 1 Grand Prix Sao Paulo, dinamika internal tim Scuderia Ferrari kembali menjadi sorotan utama paddock. Mantan pembalap mereka, Carlos Sainz, memberikan pengakuan mengejutkan mengenai tekanan luar biasa yang harus ia hadapi selama bertandem dengan rekan setimnya dulu, termasuk menerima hinaan dari basis penggemar garis keras.

Isu ini mencuat di tengah perdebatan hangat yang melibatkan Lewis Hamilton dan Charles Leclerc menyusul insiden senggolan pada lap pertama di Grand Prix Meksiko pekan lalu. Kejadian tersebut memicu kemarahan Hamilton yang merasa peluang finis satu-dua Scuderia melayang akibat manuver agresif rekan setimnya itu. Hamilton bahkan sempat melontarkan pertanyaan tajam mengenai mentalitas Leclerc, menyetujui teori bahwa pembalap asal Monako tersebut kerap membalap rekan setimnya jauh lebih agresif ketimbang pembalap dari tim rival.

Sainz, yang berbagi garasi dengan Leclerc di Maranello dari musim 2021 hingga 2024, kerap dijadikan contoh dari rivalitas internal yang ketat tersebut. Meski demikian, pembalap asal Spanyol itu justru mengenang masa-masa tersebut dengan nada positif, terutama pertarungan sengit di atas lintasan. Menurutnya, tensi tinggi adalah hal yang wajar ketika dua pembalap bertarung demi posisi terdepan dan kemenangan mutlak.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam sesi konferensi pers jelang GP Sao Paulo, Sainz secara terbuka menceritakan kenangannya bersaing melawan Leclerc. Sejujurnya ia menyimpan memori yang relatif baik mengenai kebersamaan mereka dan duel-duel seru yang tersaji di lintasan balap. Ketika memperebutkan kemenangan, tekanan otomatis meningkat karena ada banyak hal dipertaruhkan, membuat pembalap menjadi sedikit lebih egois ketimbang saat bertarung di papan tengah demi posisi delapan atau sembilan.

Sainz menambahkan bahwa situasi ideal yang diinginkan oleh tim terkadang sulit diikuti sepenuhnya ketika ada trofi kemenangan di depan mata. Walau kemenangan kala itu berada dalam genggaman, Sainz menegaskan bahwa ia selalu menaruh hormat kepada Leclerc, begitu pula sebaliknya. Keduanya tidak pernah terlibat insiden kontak fisik yang merugikan di trek, melainkan hanya menyuguhkan pertarungan sengit seperti yang penonton saksikan di Monza dan Las Vegas.

Kendati demikian, hubungan profesional yang sehat di antara kedua pembalap tersebut harus tercemar oleh tekanan eksternal dari para pendukung fanatik. Di tengah isu hangat musim ini mengenai maraknya pelecehan daring terhadap atlet oleh oknum suporter, Sainz mengakui bahwa satu-satunya hal pahit selama berseragam Ferrari adalah hinaan yang ia terima dari kelompok pendukung garis keras.

Baca Juga Leclerc Pertanyakan Narasi Rivalitas dengan Hamilton di Ferrari

Ia menjelaskan bahwa hubungan masyarakat dan basis penggemar saat itu sangat tersulut emosinya. Situasi menjadi sangat terpolarisasi antara kubu Charles dan kubunya sendiri. Sainz mengenang bagaimana dirinya sempat menderita akibat serangan verbal dari penggemar garis keras Leclerc yang melontarkan penghinaan dan mendoakan hal-hal buruk kepadanya.

Tekanan tersebut semakin diperparah oleh sebagian media Italia yang kerap menyoroti performanya, menuduhnya gagal menjalankan peran sebagai pembalap nomor dua ketika tim membutuhkannya, begitu pula sebaliknya. Bagi Sainz, tekanan masif dari ekosistem Ferrari jauh lebih melelahkan daripada permasalahan personal dengan Leclerc. Setiap ada ketegangan, mereka selalu menyelesaikannya pada malam hari yang sama melalui sambungan telepon dengan kepala dingin untuk mencari solusi terbaik.

Sementara itu, akhir pekan ini Leclerc harus absen dari kewajiban media karena terlambat tiba di Brasil akibat kelahiran anak pertamanya. Mengingat status Hamilton yang merupakan warga kehormatan Brasil, akhir pekan ini diprediksi akan menghadirkan tantangan mental tersendiri bagi Leclerc dalam menghadapi atmosfer penonton lokal.