Lampung Selatan, Nusantara Media – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih membutuhkan kewaspadaan penuh dari publik. Berdasarkan Laporan Aktivitas Gunungapi (MAGMA-VAR) yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, gunung setinggi 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini masih kukuh berstatus Level III atau Siaga pada Senin, 14 September 2026.

​Laporan pengamatan berkala yang disusun oleh petugas Pos Pengamatan Gunungapi, Rioboniek Situmorang, merangkum periode pengamatan pagi hari, mulai pukul 00:00 hingga 06:00 WIB. Dalam rentang waktu enam jam tersebut, instrumen seismograf PVMBG mendeteksi adanya aktivitas kegempaan yang mengindikasikan masih adanya pergerakan fluida magma dangkal di dalam perut gunung. Tercatat terjadi tiga kali gempa Low Frekuensi dengan amplitudo berkisar antara 9 hingga 18 milimeter dan durasi gempa yang berlangsung selama 4 hingga 7 detik.

​Di samping gempa frekuensi rendah, instrumen juga merekam aktivitas tremor menerus (microtremor) yang berlangsung tanpa henti. Tremor vulkanik ini memiliki rentang amplitudo 2 hingga 15 milimeter, dengan dominasi getaran pada angka 3 milimeter. Kondisi seismik konstan ini mempertegas bahwa sistem vulkanik di bawah kawah Anak Krakatau belum sepenuhnya stabil. Dalam laporan tersebut juga dikonfirmasi adanya noise atau rekaman gangguan suara angin pada alat seismograf.

- Advertisement -
Advertisement

​Dari segi pengamatan visual, puncak Gunung Anak Krakatau terpantau tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0-III. Asap kawah utama yang biasanya menjadi indikator pelepasan gas tidak dapat teramati secara langsung oleh petugas di pos pantau. Pemantauan visual saat ini menghadapi kendala tambahan mengingat kamera pengawas atau CCTV visual di lapangan dilaporkan sedang dalam keadaan OFF atau tidak beroperasi.

​Faktor meteorologi di sekitar kawasan vulkanik menunjukkan kondisi cuaca yang relatif cerah hingga berawan. Angin terpantau bertiup dalam skala lemah hingga sedang, bergerak membawa massa udara ke arah barat dan barat laut. Suhu udara di sekitar lokasi pengamatan berada pada rentang yang cukup hangat, yakni 26.2 hingga 26.9 derajat Celcius, diiringi tingkat kelembaban udara sebesar 81 hingga 84 persen.

Baca Juga 2 Hektare Lahan di Jalan Raya Cigeulis-Sumur Pandeglang Ludes Terbakar, Puntung Rokok Diduga Jadi Biang Kerok

​Menyikapi data kegempaan yang terekam secara aktual, PVMBG kembali menegaskan rekomendasi keselamatan bagi seluruh pihak yang berada di sekitar kawasan Selat Sunda. Masyarakat setempat, pengunjung, wisatawan, maupun nelayan dan pendaki dilarang keras untuk mendekati area tubuh Gunung Anak Krakatau. Zona pengecualian atau radius bahaya ditetapkan secara mutlak sejauh 3 kilometer dari kawah aktif.

​Pembatasan jarak aman ini tidak bisa ditawar guna mengantisipasi berbagai ancaman sekunder maupun primer vulkanik, seperti lontaran material pijar vulkanik, hujan abu pekat, hingga paparan gas beracun mematikan yang berpotensi terjadi sewaktu-waktu meskipun tanpa diawali oleh tanda-tanda visual yang jelas. Publik dihimbau untuk selalu mengakses informasi resmi mengenai perkembangan Anak Krakatau hanya melalui aplikasi MAGMA Indonesia, portal resmi Kementerian ESDM, atau jejaring media sosial PVMBG untuk menghindari persebaran informasi hoaks.