Pandeglang, Nusantara Media - Di tengah cuaca ekstrem yang melanda wilayah Banten awal tahun ini, seorang lansia bernama Abah Sahri (65 tahun) menjadi salah satu korban banjir yang menyedihkan. Berasal dari Kampung Tajur, Desa Idaman, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Abah Sahri kini mengungsi di lokasi pengungsian sementara dengan kondisi makanan yang sangat terbatas—hanya mie rebus dan nasi selama empat hari terakhir. Keadaan ini semakin parah karena Kecamatan Patia dilaporkan terisolir akibat banjir, membuat distribusi bantuan logistik hanya bisa transit di Kecamatan Pagelaran tanpa bisa menjangkau korban secara langsung.

Banjir yang terjadi sejak Senin, 12 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut, mengakibatkan luapan sungai cilemer. 

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir telah merendam 23 desa di 9 kecamatan, termasuk Patia, Sumur, Pagelaran, Sobang, Cigeulis, Labuan, Cikeusik, dan Panimbang, dengan ketinggian air mencapai 1 meter di beberapa titik.

Sebanyak 537 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.051 jiwa terdampak, dengan 300 KK di antaranya terpaksa mengungsi ke masjid atau tempat aman sementara seperti Masjid Agung Kecamatan Sobang.

Abah Sahri, yang mewakili ribuan korban lainnya, mengalami kesulitan akses makanan bergizi karena isolasi daerahnya. "Kami hanya bertahan dengan mie rebus dan nasi sederhana selama empat hari ini," ujar Abah Sahri di lokasi pengungsian. 

Bantuan dari pemerintah daerah, termasuk yang diserahkan langsung oleh Bupati Pandeglang Dewi Setiani di Patia, memang telah dikerahkan, tetapi distribusinya terhambat oleh akses jalan yang terputus.

Petugas BPBD bahkan harus melakukan evakuasi heroik, seperti menyelamatkan ibu hamil dengan berjalan kaki sejauh 3 kilometer di tengah kegelapan dan hujan deras.

 Isolasi ini semakin memperburuk kondisi, di mana banjir bandang juga menerjang wilayah Sumur, membuat warga panik menghindari arus deras.

Penyebab utama banjir ini adalah curah hujan tinggi yang memicu luapan sungai, diperburuk oleh faktor iklim ekstrem yang semakin sering terjadi di Indonesia.

Pemerintah pusat melalui BNPB telah mengimbau warga untuk waspada, sementara upaya penyaluran bantuan terus dilakukan, termasuk kolaborasi dengan yayasan seperti Yayasan Banten Selatan dan Jababeka Group yang telah menyerahkan bantuan di Sobang.

Namun, bagi korban seperti Abah Sahri, bantuan mendesak seperti makanan bergizi, obat-obatan, dan akses medis menjadi kebutuhan prioritas untuk mencegah krisis kemanusiaan lebih lanjut.

Pemprov Banten dan BNPB diharapkan segera membuka akses ke daerah terisolir seperti Patia untuk memastikan semua korban, termasuk lansia dan balita, mendapatkan bantuan tepat waktu.

Warga diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan petugas evakuasi.