Toto Wolff melontarkan sindiran pedas ke Ferrari terkait cara mereka menangani pertarungan internal pembalap di lintasan. Dalam wawancara dengan Sky Sports F1, bos Mercedes itu menyebut Ferrari berpotensi tampil seperti "idiot" karena tidak punya aturan jelas, menyoroti insiden antara Lewis Hamilton dan Charles Leclerc di Grand Prix Italia.

Kejadian berawal ketika Hamilton dipaksa melebar ke gravel oleh rekan setimnya di Ferrari, Charles Leclerc, di tikungan pertama chicane pada lap pembuka. Akibatnya, pembalap Inggris itu kehilangan enam posisi. Hamilton pun melontarkan kritik tajam, menuding Ferrari "tidak punya aturan". Kekecewaan itu sebenarnya sudah menumpuk sejak balapan sebelumnya di Zandvoort, di mana ia merasa tim membuang peluang podium karena terlalu lama terjebak di belakang Leclerc tanpa ada intervensi.

Filosofi Mercedes: Racing Intent, Bukan Aturan Kaku

Wolff menjelaskan bahwa Mercedes memiliki pendekatan berbeda. Alih-alih memberlakukan aturan ketat, timnya mengusung konsep "racing intent"—sebuah kesepahaman bahwa pembalap boleh bertarung bebas namun tetap dalam koridor sportivitas. "Itu sudah menjadi bagian dari peran kami selama 12 tahun terakhir, mengelola kedua sisi garasi dengan baik," ujar Wolff. "Selama Anda transparan dan tidak ada agenda tersembunyi untuk pilih kasih, itu cara terbaik. Tapi bukan berarti kami tidak membuat keputusan keras."

- Advertisement -
Advertisement

Wolff menambahkan bahwa Mercedes kerap menggelar pembicaraan serius pada Minggu pagi untuk mengantisipasi berbagai skenario. "Kami akan membalik posisi pembalap jika diperlukan. Keputusan seperti itu harus diambil untuk memenangkan kejuaraan, dan selalu seimbang," tegasnya.

Insiden Monza dan Keputusan Strategi yang Berani

Di Monza, Mercedes menerapkan strategi terpisah untuk kedua pembalapnya. George Russell memakai ban hard dengan prediksi satu-stop, sementara Andrea Kimi Antonelli mendapat ban medium karena memulai balapan dengan hard. Keputusan itu sempat menimbulkan ketegangan di akhir balapan ketika Russell yang bannya sudah aus harus bertahan dari tekanan Antonelli yang lebih cepat. "Kami bisa saja terlihat seperti idiot, seperti yang akhirnya dialami Ferrari," sindir Wolff. "Jadi, marginnya sangat tipis."

Baca Juga GP Belanda Dihentikan Setelah Kecelakaan Besar Max Verstappen

Wolff tetap membela keputusan strategi tersebut meskipun Russell akhirnya kehilangan kemenangan dari Antonelli. "Itu keputusan yang benar," ujarnya. "Russell memakai hard, strategi satu-stop yang lebih baik. Medium adalah kompromi. Kami harus memasang medium pada Kimi karena dia start dengan hard. Tidak ada cara lain."

Dampak ke Klasemen dan Persaingan Musim

Kritik Wolff menambah tekanan pada Ferrari yang tengah berjuang menyaingi Mercedes dan Red Bull di klasemen konstruktor. Manajemen pembalap yang buruk bisa berdampak besar pada perolehan poin, terutama ketika kedua pembalap bersaing ketat. Sementara itu, Mercedes menunjukkan bahwa ketegasan dalam mengambil keputusan—meski tidak populer—bisa menjadi pembeda dalam perebutan gelar.

Dengan musim yang masih panjang, pernyataan Wolff ini jelas menjadi bara dalam persaingan kedua tim. Ferrari perlu segera membenahi komunikasi internal jika tidak ingin kehilangan lebih banyak poin, sementara Mercedes semakin percaya diri dengan filosofi racing intent mereka.