Lampung Selatan, Nusantara Media – Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang sangat intens. Pada Selasa (25/8/2026), gunung berapi setinggi 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dilaporkan memuntahkan material vulkanik melalui puluhan letusan hanya dalam kurun waktu setengah hari.
Berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), rentetan erupsi ini terjadi pada periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. Mengingat tingginya intensitas kegempaan dan erupsi, Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan pada tingkat aktivitas Level III atau Siaga.
Pengamat Gunungapi Anak Krakatau, Rioboniek Situmorang, dalam laporannya memaparkan bahwa secara visual gunung terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut dengan tingkat 0 hingga III. Pemandangan menegangkan teramati ketika letusan terjadi secara bertubi-tubi.
"Teramati 22 kali letusan dengan tinggi 200 hingga 400 meter. Warna kolom erupsi didominasi kelabu dan hitam dengan intensitas tebal yang membubung tinggi di atas puncak kawah," demikian kutipan dari laporan pengamatan tersebut pada Selasa (25/8/2026).
Fakta yang cukup mengejutkan adalah tingginya kolom abu dari erupsi ini. Laporan mencatat bahwa tinggi kolom erupsi bahkan melebihi batas ketinggian maksimal yang dapat diamati oleh kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar kawasan gunung. Hal ini mengindikasikan adanya dorongan energi yang cukup besar dari dalam perut kawah.
Tingginya aktivitas permukaan selaras dengan gejolak di bawah permukaan. Data seismograf mencatat rentetan kegempaan yang masif selama periode enam jam tersebut. Selain 22 kali gempa letusan (amplitudo 51-57 mm, durasi 30-2066 detik), terekam pula 28 kali gempa hembusan (amplitudo 15-55 mm).
Baca Juga Tragedi Affan Kurniawan: Massa Geruduk Polda Metro Jaya, Mobil Polisi Dirusak dalam Aksi ProtesLebih lanjut, aktivitas pergerakan fluida magma menuju permukaan juga terdeteksi melalui 3 kali gempa Low Frequency dan 4 kali gempa Hybrid/Fase Banyak. Yang patut diwaspadai adalah terekamnya getaran Tremor Menerus (Microtremor) dengan amplitudo 2 hingga 50 mm, di mana getaran dominan berada pada angka 15 mm. Tremor menerus ini merupakan sinyal bahwa suplai magma terus berlangsung di dalam sistem vulkanik Anak Krakatau.
Meskipun aktivitas vulkanik terbilang ekstrem siang hingga sore ini, kondisi meteorologi di sekitar gunung terpantau cukup bersahabat. Cuaca dilaporkan cerah hingga berawan dengan angin yang bertiup lemah ke arah utara, timur laut, dan barat laut. Suhu udara berada pada kisaran hangat 29.4 hingga 31.7 °C dengan kelembaban 59-69%. Laporan juga mengonfirmasi bahwa ombak laut di perairan sekitar terpantau tenang, sehingga tidak ada indikasi anomali gelombang pada periode ini.
Menyikapi status Siaga (Level III) dan ancaman bahaya material erupsi, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas demi keselamatan jiwa. Masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, maupun para pendaki dilarang keras untuk mendekati Gunung Anak Krakatau.
"Dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," tegas PVMBG dalam rekomendasinya. Aturan radius aman ini mutlak harus dipatuhi untuk menghindari bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, maupun gas beracun yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Warga di pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang, tidak terpancing isu hoaks, dan selalu mengikuti informasi resmi dari pemerintah terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!