LAMPUNG , Nusantara Media – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, terus dipantau secara ketat. Berdasarkan laporan terbaru dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas gunung dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini masih berada pada Level III (Siaga).

Laporan pengamatan yang disusun oleh Rioboniek Situmorang untuk periode Senin, 13 Juli 2026, pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, menunjukkan kondisi yang relatif tenang di permukaan, namun menyimpan pergerakan signifikan di perut bumi. Secara meteorologis, cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau terpantau berawan dengan angin yang bertiup lemah ke arah barat daya dan barat laut. Suhu udara berkisar antara 26,8 hingga 29,3 derajat Celcius, disertai kelembaban udara yang tercatat 62-79 persen. Menariknya, keterangan tambahan juga menyebutkan bahwa kondisi ombak laut di sekitar area gunung dalam keadaan tenang.

Dari segi pengamatan visual, Gunung Anak Krakatau terlihat cukup jelas meskipun diselimuti kabut berskala 0 hingga III. Asap kawah bertekanan lemah terpantau berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Ketinggian asap kawah tersebut diperkirakan mencapai 10 hingga 100 meter di atas puncak kawah, sebuah pemandangan yang lazim namun tetap menjadi indikator aktivitas vulkanik yang tidak boleh diabaikan.

- Advertisement -

Namun, perhatian utama tertuju pada data kegempaan yang terekam. Meskipun secara visual tidak menunjukkan erupsi besar, alat seismograf PVMBG mencatat sejumlah gempa yang menandakan adanya aktivitas magma dan pergerakan lempeng tektonik. Rincian kegempaan tersebut meliputi:

Gempa Hembusan: Terjadi sebanyak 2 kali dengan amplitudo 10-16 milimeter (mm) dan durasi 31-50 detik. Gempa hembusan ini umumnya berkaitan dengan pelepasan gas dari kawah.

Gempa Hybrid/Fase Banyak: Tercatat 3 kali kejadian dengan amplitudo 7.8-10 mm dan durasi 5-10 detik. Gempa jenis ini mengindikasikan pergerakan fluida (magma atau gas) di kedalaman yang bervariasi.

Gempa Vulkanik Dangkal: Terjadi 1 kali dengan amplitudo 8 mm dan durasi singkat selama 5 detik, yang biasanya menandakan pergerakan magma mendekati permukaan.

Gempa Tektonik Jauh: Menariknya, terekam 1 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 11 mm. Gempa ini memiliki durasi yang sangat panjang, yakni mencapai 2030 detik (sekitar 33 menit), dengan beda waktu datangnya gelombang S dan P (S-P) sebesar 850 detik.

Merespons tingkat aktivitas yang masih bertahan di Level III atau Siaga ini, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas demi keselamatan publik. "Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," demikian bunyi peringatan dalam laporan tersebut.

Status Siaga mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik masih tinggi dan potensi bahaya dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kepatuhan masyarakat terhadap imbauan radius aman sangat krusial untuk mencegah jatuhnya korban jiwa maupun kerugian material. Masyarakat diimbau untuk tidak terpancing informasi yang tidak jelas sumbernya dan hanya memantau perkembangan terkini melalui kanal resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi, PVMBG, atau platform resmi Magma Indonesia.