Pandeglang,Nusantara Media - Jika, hingga Selasa (14/9/2026) besok atau memasuki hari ketujuh, pelaksanaan operasi pencarian lima jurnalis dan 3 Anak Buah Kapal (ABK) belum membuahkan hasil, maka operasi pencarian akan diperpanjang hingga tiga hari ke depan.
Hal itu, disampaikan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Provinsi Banten, Al Amrad di Posko SAR Gabungan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Minggu (13/9/2026) malam.
Sesuai Prosedur Operasi Standar (Standard Operating Procedure/SOP), Basarnas dalam melakukan operasi SAR, pencarian korban maksimal dilakukan selama 7 hari. Dengan perpanjangan operasi SAR, pencarian akan dilanjutkan hingga tiga hari kedepan.
Namun demikian, operasi pencarian 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang hilang kontak di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, pada hari ketujuh, Senin (14/9/2026) masih akan dilaksanakan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan Pasal 34, standar awal pelaksanaan operasi SAR dibatasi paling lama 7 hari.
"Jika target belum ditemukan, Search and Rescue Mission Coordinator (SMC) dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama tim gabungan akan melakukan evaluasi berkala untuk menentukan kelayakan perpanjangan operasi tersebut," terangnya.
Perpanjangan waktu operasi (biasanya ditambah 3 hari atau disesuaikan dengan kondisi lapangan) diizinkan jika memenuhi kriteria berikut:
Ditemukannya Tanda/Petunjuk Baru:
Ada penemuan barang milik korban, serpihan kapal, atau titik koordinat baru yang mengindikasikan keberadaan korban.
Penemuan Korban di Hari Terakhir:
Jika pada hari ke-7 tim masih menemukan korban (baik selamat maupun meninggal dunia), operasi otomatis diperpanjang untuk menyisir area sekitar.
Permintaan Khusus:
Adanya permohonan resmi dari pihak keluarga korban, perusahaan kapal, maupun perwakilan negara asing jika korban merupakan warga negara asing.
Hasil Analisis Teknis Positif:
Berdasarkan evaluasi tim ahli mengenai pergerakan arus laut, arah angin, serta prediksi survival rate (daya tahan hidup) korban yang dinilai masih memungkinkan.
Mengapa Evaluasi Sangat Diperlukan?
Evaluasi sebelum perpanjangan waktu sangat penting, karena operasi SAR di laut membutuhkan sumber daya yang besar dan berisiko tinggi.
Faktor utama yang dievaluasi meliputi:
Faktor Cuaca: Keselamatan tim penolong (rescuer) menjadi prioritas utama. Jika cuaca ekstrem atau gelombang terlalu tinggi, operasi dinilai tidak efektif dan berbahaya.
Efektivitas Alutsista: Menilai apakah pengerahan kapal, penyelam, drone, hingga helikopter pemantau udara sudah optimal mencakup seluruh radius prediksi hanyut.
Kesepakatan Bersama: Keputusan perpanjangan atau penutupan operasi harus disepakati oleh seluruh unsur SAR gabungan (TNI, Polri, Pemda, Potensi SAR) dan dikomunikasikan secara transparan kepada pihak keluarga korban.
Jika hasil evaluasi menunjukkan tidak ada tanda-tanda baru dan operasi dinilai sudah tidak efektif, operasi SAR utama akan ditutup secara resmi.
Meski demikian, Basarnas tetap melakukan pemantauan pasif dan operasi evakuasi dapat langsung dibuka kembali kapan saja jika di kemudian hari nelayan atau warga menemukan tanda keberadaan korban.
Kronologi 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Hilang
Lima jurnalis hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, pada Senin (7/9/2026) siang lalu.
Mereka berangkat menuju lokasi perairan yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau, namun akhirnya diperoleh kabar, bahwa kelima Jurnalis pewarta foto hilang bersama tiga awak Speedboat Arupadhatu 1.
Pada keesokan hari, Selasa (4/9/2026) Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian terhadap delapan orang yang dikabarkan hilang bersama speedboat yang mereka tumpangi untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pencarian gabungan terdiri dari Basarnas Banten, Basarnas Lampung, Polairud Polda Banten, Mabes Polri, TNI, Relawan serta unsur lainnya menyisir titik-titik yang diduga kuat keberadaan kelima jurnalis dan ABK tersebut.
Berikut kronologi lengkap dan titik terakhir keberadaan para jurnalis yang hilang kontak:
Senin 7 September 2026 Pukul 14.00 WIB, rombongan berangkat menggunakan speedboat bernama Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB dengan tujuan kawasan Gunung Anak Krakatau.
Speedboat tersebut membawa delapan orang, terdiri atas tiga awak pendukung, yakni Warta (55) sebagai kapten kapal, Surakman (60) sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) sebagai pemandu, serta lima jurnalis, yaitu Muhammad Bagus Khoirunnas dari ANTARA Biro Banten, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Sebelum keberangkatan, Bagus sempat mengirimkan foto dirinya bersama empat jurnalis lainnya di dalam kapal kepada istrinya, Desi Purnamasari.
Perjalanan dari Dermaga Pagedongan menuju Gunung Anak Krakatau, diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam.
Senin, 7 September 2026 Pukul 14.42 WIB
Sekitar pukul 14.42 WIB, Bagus masih sempat berkomunikasi dengan Abay, jurnalis ANTARA Biro Lampung yang saat itu berada di Pulau Sebesi.
Dalam komunikasi tersebut, Bagus mengirimkan informasi mengenai lokasi terkini rombongan.
Senin, 7 September 2026 Pukul 15.04 WIB
Komunikasi kemudian terputus dan pada pukul 15.04 WIB, Abay tidak lagi dapat menghubungi Bagus.
Rombongan terakhir diketahui berada di Perairan Selat Sunda pada koordinat duga 6°14'40.52"S, 105°40'49.48"T, sebelum komunikasi terputus.
Senin, 7 September 2026 Pukul 18.13 WIB
Pada pukul 18.13 WIB masih terdapat tanda, bahwa rombongan telah mencapai kawasan Gunung Anak Krakatau.
Heriyanto, pemandu kapal, sempat mengirimkan foto yang menunjukkan dirinya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Selasa, 8 September 2026, Siang Hari
Setelah tidak ada lagi komunikasi dengan rombongan, pimpinan ANTARA Biro Banten, Bayu Kuncahyo, kemudian melaporkan hilangnya kontak dengan salah satu pewartanya kepada Basarnas.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue USS Pandeglang mengumpulkan informasi awal dan bergerak menuju lokasi menggunakan RIB 02 Banten.
Tim melakukan penyisiran ke arah Gunung Anak Krakatau serta sejumlah wilayah perairan yang diduga menjadi lokasi keberadaan Arupadhatu 1. Penyisiran juga dilakukan di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Selasa, 8 September 2026 Pukul 18.00 WIB
Hingga pencarian hari pertama berakhir sekitar pukul 18.00 WIB, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan speedboat maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Selasa, 8 September 2026, Malam Hari
Operasi kemudian diperkuat dengan pengerahan KN SAR Tetuka 247 yang bertolak dari Pelabuhan BBJ menuju area pencarian.
Kapal tersebut melakukan penyisiran dan pemantauan visual di sepanjang rute operasi.
Dalam perjalanan pencarian, KN SAR Tetuka 247 tiba di perairan Sangiang sekitar pukul 21.05 WIB.
Kapal sempat direncanakan untuk lego jangkar, tetapi kondisi arus yang cukup kuat, membuat rencana tersebut tidak memungkinkan.
KN SAR Tetuka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, sembari tetap melakukan penyisiran dan pemantauan visual, tetapi belum menemukan tanda keberadaan rombongan.
Selasa, 8 September 2026, menuju pergantian hari
Kapal akhirnya tiba dan berhasil bersandar dengan aman di Dermaga Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 22.12 WIB.
Pada pukul 22.46 WIB, Tim SAR Gabungan menggelar briefing dan mengevaluasi hasil operasi hari pertama.
Baca Juga Yatim Fun Day" di Ponpes Alfatihah Pandeglang, Hadirkan Kebahagiaan Gratis untuk Anak YatimPencarian kemudian ditutup sementara dengan hasil nihil dan diputuskan untuk dilanjutkan, pada Rabu (9/9/2026) dengan cakupan area yang diperluas.
Rabu, 9 September 2026
Memasuki hari kedua, operasi pencarian dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Tim SAR Gabungan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas cakupan penyisiran.
SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan rencana pencarian sejauh 68,3 nautical mile (NM) dan jarak antarjalur pencarian atau spacing 3 NM.
SRU 2 menggunakan KAL Anyer dengan rencana penyisiran sepanjang 69,5 NM dan spacing 3 NM.
Kedua unit tersebut, menyisir area perairan yang telah ditentukan berdasarkan perencanaan operasi SAR.
SRU 3 menggunakan RIB 01 Lampung dengan rencana penyisiran sejauh 67 NM dan spacing 1 NM.
Adapun SRU 4, menggunakan RIB 02 Banten untuk kembali menyisir kawasan di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang, yang menjadi salah satu titik pencarian berdasarkan evaluasi operasi hari sebelumnya.
Pencarian hari kedua melibatkan personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, USS Pandeglang, Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung, serta unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, Balawista, nelayan, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.
Berbagai sarana turut dikerahkan, termasuk kapal SAR, RIB, rescue car, truk personel, drone thermal, serta peralatan SAR air, medis, komunikasi, dan perlengkapan pendukung.
Kondisi cuaca di lokasi pencarian dilaporkan cerah berawan, dengan angin dari selatan ke utara sekitar 14 knot dan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter.
Tim SAR menyatakan, pencarian akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus laut, serta perkembangan informasi di lapangan.
Polri melalui Polairud Polda Banten dan Mabes Polri, juga memperkuat operasi bersama Basarnas dan unsur gabungan lainnya.
Operasi pencarian dan pertolongan terhadap lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang kontak di perairan Selat Sunda masuk di hari kelima, Sabtu (12/9/2026).
Tim SAR gabungan kembali memperluas pencarian untuk menemukan keberadaan delapan orang yang hingga kini belum diketahui kondisinya.
Pada operasi hari kelima, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten mengerahkan kapal patroli KP Sanjaya untuk melakukan penyisiran di wilayah perairan yang menjadi sasaran pencarian.
Kapal KP Sanjaya diberangkatkan dari Pelabuhan Ciwandan dengan titik pencarian utama, diarahkan ke sekitar Pulau Sertung.
Lokasi tersebut berada di kawasan perairan yang berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau.
Direktur Kepolisian Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Banten, Kombes Pol Eko Hartono, mengatakan pencarian pada hari kelima dilakukan dengan pola penyisiran yang lebih terarah.
Menurutnya, Pulau Sertung menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian khusus karena berada dalam wilayah operasi pencarian di sekitar Selat Sunda.
“Untuk gambaran umumnya, pencarian hari kelima akan difokuskan ke arah Pulau Sertung,” ujar Eko saat memimpin briefing sebelum keberangkatan kapal.
Ia menjelaskan, perjalanan menuju wilayah tersebut, diperkirakan mencapai 41 mil laut.
Dengan mempertimbangkan perjalanan pergi dan kembali, kapal diperkirakan menempuh jarak hingga 82 mil laut selama operasi pencarian.
KP Sanjaya akan bergerak dengan kecepatan rata-rata sekitar 10 knot. Dengan jarak tersebut, waktu tempuh operasional pulang-pergi diperkirakan mencapai sekitar delapan jam.
Dalam operasi tersebut, personel diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan temuan di permukaan laut.
Eko menginstruksikan personel di atas kapal untuk tidak hanya mengandalkan pengamatan secara langsung.
Radar kapal dan teropong jarak jauh juga diminta digunakan secara maksimal selama proses penyisiran.
"Cek betul objek apa itu dengan teropong, radar, maupun pengamatan visual.
Laksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya," tegasnya.
Sementara itu, kondisi alam juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam operasi SAR hari kelima.
Eko menyebut adanya gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 yang berpusat di kawasan Kepulauan Seribu.
Meski demikian, berdasarkan informasi yang diterima, gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.
"Alhamdulillah gempa tersebut insyaallah tidak menimbulkan ancaman tsunami," katanya.
Untuk kondisi cuaca di sekitar lokasi pencarian, Eko menyampaikan prakiraan cuaca pada Sabtu relatif mendukung kegiatan penyisiran.
Cuaca diperkirakan cerah berawan.
Kondisi angin diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 15 knot dan bergerak menuju arah barat daya.
Sementara itu, ketinggian gelombang laut diperkirakan berkisar antara 0,5 hingga 2 meter.
Kondisi Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian karena lokasi pencarian berada di kawasan perairan yang berdekatan dengan gunung api tersebut.
Eko berharap kondisi Gunung Anak Krakatau tetap aman sehingga tidak mengganggu proses pencarian delapan orang yang hilang kontak.
Di tengah upaya menemukan para korban, keselamatan personel SAR juga menjadi perhatian utama.
Eko meminta, seluruh anggota yang terlibat dalam operasi, tidak mengambil risiko yang dapat membahayakan diri maupun tim.
Ia mengingatkan personel agar tetap berhati-hati selama pelayaran, terutama ketika melakukan penyisiran di wilayah laut dengan kondisi gelombang yang dapat berubah.
"Faktor keselamatan personel adalah yang utama. Jangan ceroboh, perhatikan keselamatan diri dan tim selama berlayar," pungkas Eko.
Dengan memasuki hari kelima, pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga ABK terus dilakukan.
Fokus penyisiran menuju Pulau Sertung diharapkan dapat membuka titik baru dalam upaya menemukan keberadaan delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Pada operasi hari keenam
Tim SAR gabungan memperluas penyisiran hingga 6.024 mil laut persegi dengan mengerahkan 14 kapal dan menyiagakan satu helikopter Basarnas, pada hari keenam pencarian, Minggu (13/9/2026).
Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Tim SAR gabungan memperluas area pencarian menjadi 6.010 hingga 6.024 mil laut persegi di perairan Selat Sunda untuk mencari delapan orang korban kapal cepat (speedboat) yang hilang kontak.
Operasi pencarian hari keenam berakhir, Minggu (13/9/2026) sore, keberadaan delapan orang yang di cari masih belum diketahui.
Mereka adalah, Muhammad Bagus Khoirunnas (LKBN ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto / Yudhis (iNews), Firdaus Wajidi / Daus (Anadolu Agency) dan Donal Husni (Jurnalis Lepas / Freelance).
Kemudian, awak kapal speesboat Arupadhatu 1, Warta sebagai kapten atau Nakhoda kapal, Surakman sebagai Anak Buah Kapal (ABK) dan Heriyanto sebagai pemandu atau guide alias gaet.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!