LAMPUNG SELATAN, NUSANTARA MEDIA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membentang di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih terus menunjukkan gejolak yang signifikan. Berdasarkan pemantauan terbaru pada Kamis, 10 September 2026, gunung api yang memiliki ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dilaporkan kembali diguncang oleh puluhan gempa vulkanik dalam kurun waktu enam jam saja.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau merilis laporan pengamatan untuk periode pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. Dari data kegempaan yang terekam, terindikasi bahwa suplai magma di bawah tubuh gunung masih terus berlangsung, yang ditandai dengan berbagai jenis gempa yang bervariasi.
Rioboniek Situmorang, penyusun laporan dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, mencatat adanya sejumlah gempa yang mengindikasikan pergerakan fluida atau magma ke arah permukaan. Secara rinci, terekam 8 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 6-12 mm berdurasi 4-8 detik. Selain itu, alat seismograf juga merekam 3 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak, 9 kali gempa Vulkanik Dangkal, dan 7 kali gempa Vulkanik Dalam.
"Tremor Menerus (Microtremor) juga terekam dengan amplitudo 1 hingga 6 mm, di mana yang paling dominan berada di angka 2 mm," jelas laporan resmi yang bersumber dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, dan PVMBG tersebut pada Kamis (10/9/2026). Rentetan gempa vulkanik dan tremor ini menjadi sinyal jelas bahwa energi dari dalam dapur magma Anak Krakatau belum sepenuhnya stabil.
Meski aktivitas kegempaan terpantau cukup tinggi, pengamatan secara visual dari pos pantau mengalami sedikit kendala. Kondisi meteorologi di sekitar kawasan Anak Krakatau sebenarnya dilaporkan cerah dan berawan. Angin terpantau bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut, dengan suhu udara berkisar antara 28,6 hingga 30,6 derajat Celcius dan kelembaban udara mencapai 65 hingga 71 persen.
Namun demikian, secara visual, Gunung Anak Krakatau tertutup oleh kabut dengan tingkat ketebalan 0-III. Hal ini menyebabkan asap kawah utama tidak dapat teramati dengan jelas dari kejauhan. Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengonfirmasi bahwa pantauan melalui kamera pengawas atau CCTV visual di lapangan saat ini sedang dalam kondisi tidak aktif atau OFF, sehingga tim pemantau sangat mengandalkan data instrumen kegempaan untuk menganalisis kondisi terkini gunung tersebut.
Baca Juga Massa Serbu Rumah Eko Patrio di Jakarta SelatanMerespons tingginya aktivitas kegempaan tersebut, PVMBG menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan di Level III atau berstatus Siaga. Status ini belum diturunkan mengingat ancaman bahaya erupsi yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa didahului gejala visual yang mencolok.
Oleh karena itu, otoritas terkait mengeluarkan rekomendasi dan peringatan keras kepada publik. "Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," tegas pihak PVMBG dalam rekomendasinya.
Penerapan zona bahaya sejauh 3 kilometer ini mutlak dipatuhi untuk menghindari potensi jatuhan material pijar, hujan abu vulkanik pekat, hingga paparan gas beracun yang dapat membahayakan keselamatan jiwa. Nelayan yang berlayar di perairan Selat Sunda juga diimbau untuk selalu waspada dan menjaga jarak aman dari kawasan pulau gunung api tersebut. Masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan hanya merujuk pada informasi resmi dari Badan Geologi maupun PVMBG.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!