Liam Lawson mengaku merasa “tersesat” saat menjalani sesi kualifikasi keduanya bersama Red Bull musim ini. Pembalap asal Selandia Baru itu kembali dipinjamkan ke tim utama untuk menggantikan Isack Hadjar yang cedera, namun ia sudah tahu sejak awal bahwa dirinya akan start dari barisan belakang akibat penalti mesin.
Meski menerima perannya sebagai pendukung Max Verstappen sepanjang sesi, Lawson tetap kecewa dengan jalannya kualifikasi. Ia tersingkir di Q2 dan mengeluhkan situasi yang tidak ideal di radio tim. Ketika ditanya apakah komentarnya hanya luapan emosi sesaat, ia menjawab, “Pasti. Kami punya rencana, tapi ada yang tidak benar-benar mengikutinya. Jadi, saya merasa kadang tidak tahu apa yang sedang saya lakukan.”
Meski demikian, Lawson enggan menyebut siapa yang ia maksud dalam komentarnya. Baginya, kualifikasi akhir pekan ini bukan prioritas utama karena ia akan start dari belakang. “Kami bisa fokus ke balapan sekarang,” tegasnya.
Usaha Lawson di Q2 juga terganggu oleh rencana jalannya Red Bull. Ia harus memulai putaran terakhirnya tepat saat pembalap lain mulai keluar dari pit untuk pemanasan, sehingga ia bertemu lalu lintas di chicane pertama. Oscar Piastri bahkan menjadi penghalang di apeks Tikungan 1, insiden yang berujung pada penalti turun tiga posisi untuk pembalap McLaren itu.
Baca Juga Suara Mobil F1 2026 Jadi Sorotan Fans di GP Australia“Saya menghabiskan seluruh kualifikasi di udara bersih sampai putaran terakhir. Itu pertama kalinya saya di belakang mobil lain, dan ban sudah sangat panas. Situasinya tidak ideal,” ungkap Lawson. “Mencoba melakukannya untuk pertama kali tidak ideal, tapi yang paling menyakitkan mungkin kehadiran Oscar di Tikungan 1.”
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!