Joan Mir buka suara soal rentetan kecelakaan yang dialaminya di MotoGP. Pembalap Repsol Honda itu menegaskan bahwa dirinya paham betul cara membalap tanpa jatuh, namun pendekatannya yang tidak pernah puas membuatnya kerap mengambil risiko ekstra untuk memaksimalkan performa motor.
Sepanjang musim ini, Mir tercatat sudah jatuh 16 kali, menjadikannya pembalap dengan jumlah crash tertinggi bersama Jorge Martin. Angka itu melanjutkan tren buruk dari musim lalu ketika ia mencatatkan 22 kali jatuh. Sejak bergabung dengan Honda pada 2023, total 79 kecelakaan telah dialami Mir dalam 69 grand prix, atau rata-rata lebih dari satu kali jatuh per seri.
Menanggapi statistik tersebut, Mir menjelaskan bahwa setiap kecelakaan memiliki penyebab berbeda. Ia menyebut beberapa di antaranya terjadi karena kontak di awal balapan, terutama saat start dari posisi belakang. Menurutnya, cara balap di barisan depan sangat berbeda dengan bertarung di tengah atau belakang, sehingga target utamanya adalah tampil lebih kompetitif sejak awal.
“Tidak ada penjelasan spesifik karena setiap crash punya alasan berbeda. Yang jelas, jika start dari baris pertama atau kedua, Anda tidak akan jatuh. Cara balap di depan sangat berbeda dengan saat berada di belakang. Yang harus saya lakukan adalah berusaha tampil lebih ke depan,” ujar Mir.
Namun, Honda RC213V yang dikendarainya memang dikenal sulit untuk dikendarai dengan aman saat digeber maksimal. Mir mengakui bahwa banyak kecelakaan terjadi karena ia mencoba menggali lebih dalam dari kemampuan motor yang sebenarnya. Kondisi ini diperparah oleh situasi kariernya yang sedang tidak stabil bersama pabrikan Jepang tersebut.
Baca Juga Marquez Yakin Kembali Bertarung di MotoGP Aragon“Banyak crash datang dari mencoba mencari lebih dari motor yang sebenarnya tidak ada. Saya pembalap berpengalaman, tapi sekarang saya juga harus memanfaatkan setiap peluang untuk mendapat hasil bagus, karena saya tidak tahu kapan peluang berikutnya datang,” kata Mir.
Mir juga mengaku sempat meragukan masa depannya di balapan, tetapi kini ia justru semakin lapar akan hasil. Ia sadar bahwa kegagalan konsisten bisa berdampak dua arah: memicu motivasi atau mematikan semangat. Dalam kasusnya, rasa lapar itulah yang justru membuatnya nekat mengambil risiko berlebih.
“Tidak punya hasil konsisten bisa punya dua makna: meningkatkan rasa lapar untuk tampil baik, atau mematikan motivasi. Saya pernah berada di titik ragu apakah layak melanjutkan. Sekarang, jika ada peluang, saya mencoba karena saya ingin dan lapar untuk meraih lebih. Mungkin saya harus mengontrol dorongan itu karena motor yang saya miliki tidak mampu lebih,” pungkasnya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!