Mantan tokoh penting dunia balap, Helmut Marko, kembali mencuri perhatian publik lewat langkah bisnis terbarunya yang cukup mengejutkan di luar lintasan balap. Tokoh asal Austria tersebut memutuskan untuk memberikan dukungan finansial kepada sebuah perusahaan rintisan inovatif bernama Lebensstimmen, atau yang dikenal secara internasional sebagai Words That Remain. Perusahaan ini tengah mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau AI mutakhir yang memungkinkan seseorang untuk mempersiapkan pesan perpisahan pribadi yang nantinya akan disampaikan kepada orang-orang terkasih setelah mereka meninggal dunia.
Proyek yang tergolong tidak biasa dan sarat akan teknologi masa depan ini secara resmi diperkenalkan dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Wina. Dalam acara peluncuran tersebut, Helmut Marko hadir secara langsung berdampingan dengan para pendiri perusahaan rintisan itu serta pemuka agama terkemuka, pastor Katedral Wina Toni Faber. Kehadiran figur-figur penting ini menegaskan keseriusan di balik pengembangan platform avatar berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk merekam memori dan pesan akhir seseorang semasa hidup mereka.
Platform inovatif ini bekerja dengan cara memungkinkan para penggunanya untuk merekam pesan semasa mereka masih hidup, sekaligus memberikan kebebasan penuh untuk memilih siapa saja penerima pesan tersebut serta menentukan dalam keadaan atau situasi apa pesan itu akan diserahkan. Bahkan, layanan ini menawarkan sebuah konsep yang terbilang radikal, yakni memberikan kesempatan bagi seseorang untuk seolah-olah tetap memberikan sambutan atau berbicara langsung kepada para pelayat di hari pemakaman mereka sendiri, meskipun raga mereka telah tiada.
Dalam sesi pengumuman proyek tersebut, sosok yang juga pernah meraih kemenangan di ajang Le Mans pada tahun 1971 itu menarik garis paralel yang menarik antara investasi terbarunya di bidang kecerdasan buatan dengan peran krusial teknologi di dunia motorsport. Menurutnya, inovasi selalu membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah maju. Proyek ini menggunakan teknologi yang sangat baru, terutama kecerdasan buatan, sehingga menawarkan peluang yang sangat unik untuk surat warisan terakhir sekaligus kemungkinan bagi almarhum untuk berbicara secara pribadi di pemakamannya, ujar Helmut Marko saat memberikan keterangan kepada para awak media.
Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa proyek ambisius ini dikelilingi oleh para ahli yang sangat kompeten serta dilatih dengan baik dari sisi teknis maupun aspek hukum yang berlaku. Pasar yang dibidik oleh perusahaan rintisan ini pun berskala global. Dirinya menambahkan bahwa dunia motorsport tidak pernah diserahkan begitu saja pada keberuntungan, melainkan terus disempurnakan melalui keberanian untuk secara konsisten memanfaatkan teknologi baru demi kepentingan manusia, dan sikap mental itulah yang ia temukan di dalam perusahaan Lebensstimmen.
Selain pesan pribadi, salah satu fitur menarik yang ditawarkan oleh usaha rintisan ini adalah apa yang disebut sebagai Fabertar. Fitur ini merupakan sebuah layanan pembuat pidato pemakaman berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan bekerja sama dengan Toni Faber, yang selama ini dikenal sebagai Pastor Katedral Santo Stefanus di Wina. Teknologi khusus ini dirancang untuk menyediakan pidato pemakaman pada situasi di mana keluarga menginginkannya atau ketika seorang pembicara tradisional sedang berhalangan hadir, tanpa bermaksud menggantikan layanan keagamaan atau tradisi pemakaman yang sudah ada sebelumnya.
Baca Juga GP Belanda Dihentikan Setelah Kecelakaan Besar Max VerstappenPihak perusahaan memastikan bahwa seluruh pesan yang dibantu oleh kecerdasan buatan ini akan didasarkan secara murni pada informasi yang diberikan oleh manusia asli, melalui proses peninjauan ketat oleh manusia, serta diberi tanda pengenal yang jelas bahwa konten tersebut melibatkan teknologi kecerdasan buatan. Langkah ini diambil guna menjaga transparansi dan kepercayaan publik. Perusahaan juga telah menggandeng berbagai mitra di bidang hukum dan teknologi untuk menangani isu privasi, keamanan data, serta penanganan pesan-pesan sensitif yang memang dipersiapkan untuk disampaikan pascakematian seseorang.
Keputusan untuk menanamkan modal di sektor teknologi kecerdasan buatan ini menandai babak baru yang tak terduga bagi Helmut Marko, mengingat ia baru saja mengakhiri masa baktinya yang panjang di Red Bull pada akhir tahun 2025 setelah lebih dari dua dekade berperan sebagai salah satu figur paling berpengaruh di organisasi tersebut. Selama masa kepemimpinannya dalam mengawasi program pembalap muda Red Bull, ia telah berhasil menempa dan mengembangkan karier sejumlah bintang masa depan di ajang Formula 1, termasuk nama-nama besar seperti Sebastian Vettel dan Max Verstappen.
Sejak meninggalkan tim yang berbasis di Milton Keynes tersebut, Helmut Marko memang lebih banyak menjaga jarak dan mempertahankan profil publik yang relatif rendah, meskipun namanya sempat kembali menghiasi pemberitaan media berkat komentarnya mengenai masa depan Liam Lawson di tim Racing Bulls serta berbagai tanggapan atas buku otobiografi dari mantan prinsipal tim Red Bull, Christian Horner. Hingga saat ini, pihak manajemen maupun Helmut Marko sendiri belum mengungkapkan secara terbuka mengenai rincian finansial dari nilai investasi yang ditanamkannya pada proyek kecerdasan buatan Lebensstimmen ini.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!