Lampung, Nusantara Media  – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melaporkan terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Lampung. Erupsi terjadi pada Kamis, 9 Juli 2026, pukul 16:46 WIB.

Kolom abu vulkanik teramati mencapai tinggi ±400 meter di atas puncak atau sekitar ±557 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah utara serta barat laut. Erupsi ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 53 mm dan durasi sekitar 34 detik. Aktivitas ini merupakan kelanjutan dari peningkatan vulkanik yang telah diamati sejak awal Juli 2026.

Peristiwa ini berlangsung sore hari di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, antara Provinsi Lampung dan Banten. Gunung api aktif ini terus dipantau oleh Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau melalui sistem pemantauan visual dan instrumental di situs resmi Magma VSI.

- Advertisement -

PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas untuk keselamatan masyarakat, pengunjung, wisatawan, pendaki, serta nelayan. Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga). Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif. Rekomendasi ini bertujuan mencegah risiko lontaran material vulkanik, awan panas, dan dampak abu vulkanik.

Anak Krakatau merupakan gunung api anak yang tumbuh pasca letusan dahsyat Krakatau tahun 1883. Gunung ini secara geologis aktif karena berada di zona subduksi lempeng tektonik. Peningkatan aktivitas seismik dan tekanan magma sering memicu erupsi seperti yang terjadi berulang di awal Juli 2026 (termasuk erupsi sebelumnya dengan kolom abu 150-200 meter).

Gunung Anak Krakatau muncul pertama kali pada 1927 setelah kehancuran Krakatau 1883 yang menewaskan puluhan ribu orang dan menjadi salah satu erupsi paling mematikan dalam sejarah modern. Gunung ini terus tumbuh dengan laju sekitar 6 meter per tahun dan sering mengalami erupsi kecil hingga sedang. Pada 2018, misalnya, sempat mencatat ratusan letusan dalam sehari. Aktivitas terkini menunjukkan pola fluktuatif yang memerlukan kewaspadaan tinggi.

Peningkatan status ke Level III sejak awal Juli 2026 didasarkan pada peningkatan gempa vulkanik, tremor, dan aktivitas visual. Meski demikian, hingga saat ini belum dilaporkan adanya korban jiwa atau kerusakan signifikan di daratan terdekat seperti Anyer dan Carita yang berada di luar zona bahaya (sekitar 40 km). Abu vulkanik dapat memengaruhi penerbangan dan kesehatan pernapasan jika tersebar luas.


PVMBG menghimbau masyarakat tetap tenang namun waspada. Ikuti selalu informasi resmi melalui situs magma.vsi.esdm.go.id atau aplikasi pemantauan kebencanaan. BPBD setempat telah berkoordinasi dengan nelayan untuk menghindari perairan sekitar gunung. Wisatawan diimbau menunda aktivitas di sekitar Selat Sunda hingga status diturunkan.

Erupsi seperti ini merupakan bagian dari dinamika alam Indonesia sebagai negara Ring of Fire. Pemantauan intensif oleh PVMBG menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana. Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan atau percaya hoaks terkait erupsi besar yang tidak sesuai fakta resmi.

Hingga berita ini ditulis, aktivitas masih dalam pemantauan. Potensi erupsi susulan masih ada selama status Siaga berlaku. Pemerintah daerah Lampung dan Banten terus melakukan sosialisasi dan persiapan evakuasi jika diperlukan.