Dunia Formula 1 kembali diwarnai komentar tajam dari tokoh senior paddock, di mana Christian Horner belum lama ini melayangkan sindiran kepada mantan koleganya, Guenther Steiner. Komentar tersebut menyoroti bagaimana sang mantan prinsipal tim Haas kini justru lebih dikenal karena kepribadiannya di layar kaca ketimbang prestasi manajerialnya di lintasan balap kelas premier.

Sepanjang kariernya mengarungi ketatnya persaingan jet darat, Christian Horner sukses memimpin Red Bull bertarung secara konsisten di jajaran terdepan serta memborong berbagai gelar juara dunia. Di sisi lain, Guenther Steiner menjabat sebagai kepala tim Haas dalam kurun waktu 2014 hingga 2023, dengan pencapaian terbaik berupa finis di peringkat kelima klasemen konstruktor pada musim 2018.

Kendati mengemban tanggung jawab besar sebagai pimpinan tim pabrikan, Guenther Steiner justru melambung tinggi namanya berkat serial dokumenter populer Netflix, Drive To Survive. Melalui tayangan tersebut, jutaan penonton di seluruh dunia dapat menyaksikan secara langsung karakter unik serta celetukan spontan sang manajer, yang pada akhirnya mendongkrak popularitasnya jauh melampaui kinerja teknisnya bersama Haas.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Autosport baru-baru ini, Christian Horner mengulas kesuksesan yang diraih rivalnya melalui medium televisi tersebut sembari melontarkan candaan bernada sindiran. Pria asal Inggris itu menyoroti bagaimana proses produksi sebuah tayangan dokumenter sangat bergantung pada sudut pandang penyuntingan gambar di ruang editing.

Christian Horner menyatakan, "Orang-orang ini sedang membuat sebuah acara televisi, jadi mereka mengumpulkan rekaman berjam-jam lamanya, dan itu semua bergantung pada bagaimana Anda menyunting sesuatu. Anda bisa membuat seseorang terlihat seperti penjahat atau pahlawan, atau sebaliknya."

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa serial tersebut memegang peranan besar dalam mendongkrak atensi global terhadap ajang balap mobil paling bergengsi di dunia. "Acara itu sangat sukses karena tiba-tiba membuka tirai tentang persaingan tertentu, kepribadian, kepribadian para pembalap, dan karakter-karakter tertentu," imbuhnya.

Baca Juga FIA Setuju Sayap Macarena F1 Lanjut, Red Bull Perlu Kerja Lebih

Puncak dari komentar pedas tersebut mengarah langsung pada rekam jejak statistik Guenther Steiner di atas podium Formula 1. Christian Horner secara terbuka melontarkan lelucon mengenai minimnya trofi yang berhasil diraih pria berdarah Italia-Amerika tersebut sepanjang sejarah keikutsertaannya di paddock.

"Guenther Steiner telah membangun karier dari hal ini... Maksud saya, saya tidak berpikir dia pernah mencetak podium dalam Formula 1!" ujar Horner menyindir, sebelum menutupnya dengan nada apresiasi positif terhadap dampak sang mantan kolega bagi industri olahraga otomotif.

"Tapi bagus untuknya. Dia adalah seorang karakter, karakter yang cukup menakutkan ketika dia bekerja untuk kami, tetapi ya, dia telah membawa basis penggemar baru ke dalam olahraga ini, dan itu sangat fantastis," pungkasnya.

Saat ini, baik Christian Horner maupun Guenther Steiner tengah menikmati masa istirahat di luar struktur manajerial tim. Guenther Steiner meninggalkan jabatannya setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh Haas selepas musim 2023, sementara Christian Horner juga baru saja menanggalkan peran sentralnya di Red Bull pada paruh musim 2025.