Situasi pelik tengah melanda garasi tim McLaren menjelang seri balap berikutnya di Amerika Serikat. Sang juara bertahan Formula 1, Lando Norris, melontarkan peringatan keras dan proyeksi suram terkait performa mobilnya yang dinilai masih tertinggal jauh dari barisan terdepan persaingan musim ini.

Pembalap asal Inggris tersebut kini harus puas tertahan di peringkat keenam klasemen sementara kejuaraan dunia. Pada seri sebelumnya di sirkuit jalan raya Marina Bay, Singapura, pembalap berusia 26 tahun itu hanya mampu mengamankan posisi finis keempat setelah memulai balapan dari grid kelima. Sepanjang akhir pekan balapan tersebut, kecepatan optimal sama sekali tidak berada dalam genggaman, memicu keraguan besar menatap balapan akhir pekan mendatang di Circuit of the Americas, Austin.

Ketika disinggung mengenai peluang dan prospeknya pada Grand Prix Amerika Serikat yang akan segera digelar, sang pemilik 13 kemenangan Grand Prix tersebut tidak menutup-nutupi realitas pahit di atas lintasan. Mobil pacuannya dinilai memiliki batasan performa yang cukup signifikan serta menyulitkan para insinyur dalam menemukan keseimbangan ideal.

- Advertisement -
Advertisement

Sebagaimana dilansir dari Speedweek, Lando Norris secara terbuka mengungkapkan kerumitan teknis yang harus ia hadapi di balik kokpit. Mengemudikan mobil McLaren saat ini menuntut tingkat presisi luar biasa tinggi yang berdampak langsung pada kelelahan fisik maupun psikologis sepanjang akhir pekan balapan.

Mobil yang dikendarainya berada dalam kondisi batas kendali yang sangat tipis di setiap tikungan sirkuit. Menurutnya, karakteristik kendaraan memaksa seorang pembalap untuk bekerja dalam margin satu persen yang sangat sempit, di mana tidak ada toleransi kesalahan sedikit pun dalam mengarahkan kendaraan sesuai keinginan pengemudi.

Baca Juga George Russell Kecelakaan di GP Singapura Hancurkan Peluang Juara

Kesulitan tersebut semakin berlipat ganda karena karakteristik sasis tidak memberikan kestabilan natural, baik pada bagian depan maupun belakang mobil. Segala hal harus dikendalikan secara paksa, sehingga menguras energi mental dan kapasitas konsentrasi maksimal dari seorang atlet balap profesional kelas dunia.

Situasi rumit ini membuat upaya mencatatkan waktu putaran kompetitif dalam sesi kualifikasi menjadi sebuah misi yang hampir mustahil untuk dieksekusi dengan sempurna. Tanpa adanya peningkatan kecepatan murni dari paket aerodinamika dan mesin, tidak ada keajaiban yang bisa diciptakan di atas lintasan oleh skuad asal Woking tersebut.