Dunia balap kembali dikejutkan oleh sisi gelap dunia maya setelah insiden panas yang terjadi pada ajang GT World Challenge Europe Endurance Cup penutup musim di Sirkuit Portimao. Bintang Formula 1 asal Belanda, Max Verstappen, secara terbuka melontarkan kecaman keras terhadap gelombang perundungan serta pelecehan daring yang secara tidak adil diarahkan kepada rekan setimnya, Chris Lulham. Insiden tersebut bermula ketika pembalap asal Inggris itu berada di balik kemudi untuk menjalani tugas stintnya dalam balapan ketahanan tiga jam yang berlangsung sengit dan penuh tekanan tinggi.

Dalam jalurnya, Lulham sebenarnya mampu menunjukkan performa yang sangat kompetitif dan konsisten berada di barisan sepuluh besar. Namun, sebuah insiden kontak yang tak terhindarkan terjadi ketika mobil yang dikemudikannya menyenggol kendaraan Mercedes #48 miliknya Winward Racing yang dikemudikan oleh Luca Stolz. Konsekuensi dari insiden tersebut langsung dijatuhkan oleh pengawas balapan berupa penalti drive-through. Hukuman berat ini praktis menghancurkan peluang emas bagi tim #3 Team Verstappen Racing Mercedes-AMG untuk meraih kemenangan, padahal mereka telah berjuang mati-matian merangsek naik dari posisi ke-14 di grid awal.

Meskipun menghadapi situasi yang sulit, Verstappen yang mengambil alih kemudi untuk stint terakhir tidak tinggal diam. Peraih gelar juara dunia berkali-kali itu mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk melakukan pemulihan luar biasa. Mobil tersebut perlahan bangkit dan akhirnya berhasil mengamankan posisi kesembilan yang cukup terhormat setelah melalui perjuangan melelahkan dari barisan belakang. Bahkan, dalam drama empat menit terakhir balapan, Verstappen sukses naik satu posisi setelah menyalip mobil Ferrari yang dikemudikan oleh Arthur Leclerc, saudara dari rival utamanya di ajang Formula 1, yakni Charles Leclerc.

- Advertisement -
Advertisement

Sayangnya, hasil positif di atas lintasan ini harus tercoreng oleh reaksi negatif dari sebagian oknum netizen. Kesalahan yang dibuat oleh Lulham memicu gelombang komentar kebencian serta serangan personal di media sosial yang tidak berdasar. Merasa tidak tahan melihat rekan setimnya diserang secara personal, Verstappen segera menggunakan akun Instagram pribadinya untuk menyuarakan pembelaan dan mengutuk tindakan tersebut secara tegas tanpa kompromi.

“Saya juga merasa perlu untuk angkat bicara mengenai kebencian dan pelecehan yang diterima Chris setelah balapan,” tulis Verstappen dalam unggahannya. “Setiap orang tentu boleh memiliki pendapat mengenai apa yang terjadi di atas lintasan, tetapi serangan-serangan personal ini sama sekali tidak dapat dibenarkan. Chris telah menjalani stint yang benar-benar kuat dan kesalahan adalah hal yang manusiawi. Tidak ada ruang bagi bentuk pelecehan semacam ini di dalam olahraga kita maupun di tempat lain.”

Baca Juga Alpine Pertahankan Franco Colapinto untuk F1 2027

Dukungan moral serupa juga datang dari Ben Barnicoat, yang melengkapi susunan pembalap di mobil nomor 3 bersama Verstappen sebagai pengganti sementara untuk pembalap reguler Dani Juncadella dan Jules Gounon. Melalui akun media sosialnya, Barnicoat memberikan apresiasi tinggi kepada rekan-rekan setimnya atas kerja keras sepanjang akhir pekan. Sementara itu, kisah Lulham sendiri cukup unik karena ia meniti jalan ke balap GT melalui jalur balap simulasi atau sim racing, di mana Verstappen mengungkapkan bahwa sebelum akhir pekan ini, keduanya telah bekerja sama dalam waktu yang cukup panjang.

Adapun balapan puncak di Portimao tersebut akhirnya dimenangkan oleh trio Fabian Schiller, Ralf Aron, dan Maxi Gotz yang mengendarai mobil Mercedes-AMG dari tim GetSpeed nomor 17. Selepas menyelesaikan drama di ajang GT World Challenge Eropa ini, Verstappen harus segera mengalihkan fokusnya untuk kembali bertarung di ajang jet darat Formula 1, di mana ia kini bersiap bertolak menuju Austin untuk menghadapi rangkaian seri Grand Prix Amerika Serikat.