Lando Norris menyebut perkembangan yang dilakukan McLaren sepanjang musim ini 'sangat gila'. Namun, ia menolak anggapan bahwa timnya kini menjadi tim terkuat di Formula 1.

Setelah gagal finis di Zandvoort tahun lalu, Norris kembali ke sirkuit yang sama dengan kemenangan yang sangat berarti. Kemenangan tersebut bukan hanya sekadar balas dendam, tetapi juga bukti nyata dari kerja keras McLaren di bawah regulasi teknis baru.

Dengan dua kemenangan beruntun di Hungaria dan Belanda, Norris memangkas jarak di klasemen menjadi 83 poin di belakang pemimpin. Situasi ini sangat kontras dengan tahun lalu, ketika Max Verstappen justru tertinggal 104 poin dari Oscar Piastri setelah Zandvoort, namun akhirnya hanya kalah dua poin di akhir musim.

- Advertisement -
Advertisement

Lompatan Perkembangan yang 'Luar Biasa'

Norris menegaskan bahwa McLaren telah melakukan pekerjaan terbaik dalam hal pengembangan dibandingkan tim lain. Ia mengakui bahwa timnya memang tertinggal di awal musim karena fokus penuh pada mobil tahun lalu, tetapi kini mereka berhasil mengejar dan bahkan melampaui rival.

"Kami dengan mudah melakukan pekerjaan terbaik jika melihat semuanya dari posisi kami tahun lalu," ujar Norris. "Kami selalu tahu akan start di belakang musim ini karena fokus kami tahun lalu. Tapi untuk bisa mengejar, kami mengembangkan mobil lebih baik dari mereka. Di trek seperti ini, hampir satu detik perkembangan kami dibanding pesaing. Itu sangat gila."

Baca Juga Lando Norris Akui McLaren Tak Berdaya di Tikungan Lambat

Data Mendukung Klaim Norris

Data dari Paceteq menunjukkan bahwa pada seri pembuka di Australia, McLaren rata-rata lebih lambat 1,34 detik per lap dibanding Mercedes. Setelah paket upgrade besar pertama di Miami, defisit tersebut berhasil ditekan, dan hanya di Kanada (1,10 detik) serta Monako (1,67 detik) yang masih di atas satu detik. Norris mengaitkan kekurangan itu dengan performa mobil yang buruk di tikungan kecepatan rendah.

Kemenangan di Zandvoort juga menunjukkan peningkatan performa Norris secara pribadi. Ia mengaku telah bekerja keras untuk memperbaiki kelemahannya, terutama di sektor yang sebelumnya menjadi titik lemahnya.

Meski Mercedes menganggap McLaren kini sebagai tim terkuat, Norris tetap rendah hati. Ia menilai persaingan masih panjang dan belum waktunya untuk merasa puas.