Rob Smedley, mantan insinyur balap Ferrari, menegaskan bahwa tim asal Italia itu harus “berada di belakang” Lewis Hamilton jika ingin memiliki peluang memenangkan gelar juara dunia Formula 1 2026. Pernyataan ini muncul setelah Grand Prix Belanda, di mana Hamilton merasa frustrasi dengan strategi tim yang gagal menukar posisi dengan rekan setimnya, Charles Leclerc, sehingga ia kehilangan peluang podium dan poin penting dalam perebutan gelar.
Hamilton, yang merupakan juara dunia tujuh kali, turun ke posisi ketiga di klasemen sementara setelah finis keempat di belakang George Russell. Meski demikian, poin keduanya sama, tertinggal 59 poin dari Andrea Kimi Antonelli yang memimpin klasemen. Situasi ini memicu perdebatan di paddock tentang bagaimana Ferrari seharusnya mengelola dua pembalapnya yang tengah bersaing ketat.
Smedley berpendapat bahwa Ferrari harus bersikap tegas dan mengambil tindakan drastis untuk mengalahkan duo Mercedes dalam perburuan gelar tahun ini. “Pendapat saya sejak awal adalah, jika Ferrari ingin berdampak pada kejuaraan dunia ini, mereka harus berada di belakang Lewis,” ujarnya dalam podcast High Performance Racing. “Seberat apa pun itu bagi Charles dan tim di sisi garasi itu, mereka semua bekerja untuk Ferrari.”
“Lewis tampil lebih baik tahun ini, dan itulah faktanya. Jika mereka ingin merebut poin dari Mercedes, mereka harus melakukannya sebagai sebuah tim. Mereka tidak selalu punya mobil terbaik, tapi kadang-kadang mereka memilikinya, dan saat itulah mereka harus memastikan Lewis menang. Di kesempatan lain, mereka harus memaksimalkan poin Lewis,” tambah Smedley.
Mantan prinsipal Alpine dan Aston Martin, Otmar Szafnauer, setuju dengan Smedley. Ia menekankan bahwa Ferrari harus fokus pada tujuan utamanya, yaitu gelar juara dunia pembalap, bukan konstruktor. “Bagi tim yang menganggap gelar pembalap lebih berarti daripada konstruktor, mereka harus membuat setiap keputusan untuk mencapai tujuan itu, dan mereka belum melakukannya,” kata Szafnauer.
Baca Juga Kesalahan Strategi Ferrari, Pelajaran dari Eksekusi Brutal MercedesInsiden di Zandvoort terjadi ketika Hamilton yang berada di strategi berbeda dengan ban lebih segar tertahan di belakang Leclerc karena sulitnya overtake di sirkuit tersebut. Hamilton baru dilepas setelah Leclerc dipanggil ke pit, tetapi waktu sudah terbuang. Situasi ini memicu pesan radio sinis dari Hamilton ke dinding pit Ferrari, yang kemudian menjadi sorotan media.
Szafnauer menambahkan bahwa aturan sederhana seharusnya diterapkan: jika seorang pembalap membiarkan rekannya lewat untuk menyerang mobil di depan, dan gagal, maka posisi harus ditukar kembali. “Kami dulu punya aturan seperti itu,” ujarnya.
Keputusan Ferrari dalam beberapa balapan ke depan akan menjadi penentu apakah mereka mampu mengejar ketertinggalan dari Mercedes. Dengan dukungan penuh untuk Hamilton, peluang itu masih terbuka, tetapi waktu terus berjalan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!