Banten, Nusantara Media - Pengamatan visual dan instrumental menunjukkan bahwa Anak Krakatau yang terletak di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, hingga kini masih menunjukkan dinamika aktivitas vulkanik yang signifikan pada periode pengamatan sore hari. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Tim Peliput, gunung api dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut tersebut saat ini berada pada Status Level III atau yang dikenal sebagai status Siaga. Kondisi ini menuntut peningkatan kewaspadaan yang tinggi dari berbagai pihak, terutama masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan pesisir Selat Sunda, baik di wilayah Provinsi Lampung maupun di Provinsi Banten.

Secara meteorologis, kondisi cuaca di sekitar kawasan puncak terpantau berawan dengan hembusan angin yang bertiup lemah mengarah ke utara dan timur laut. Tercatat kisaran suhu udara berada pada angka 29,3 hingga 30,3 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 51 hingga 61 persen. Sementara itu, dari aspek visual, gunung terlihat tertutup kabut dengan skala 0 hingga III, sedangkan kepulan asap kawah utama tidak teramati secara langsung akibat tertutup kabut tebal. Di sisi lain, fasilitas pemantauan visual jarak jauh melalui CCTV lapangan dilaporkan dalam kondisi tidak aktif atau off, sehingga ketergantungan data kini bertumpu pada instrumen kegempaan.

Data kegempaan yang dihimpun oleh Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau mencatat adanya aktivitas kegempaan Tektonik Lokal sebanyak satu kejadian dengan amplitudo mencapai 30 mm, gelombang S-P selama 5,45 detik, serta durasi gempa tercatat selama 21,5 detik. Selain itu, aktivitas kegempaan mikro atau Tremor Menerus (Microtremor) juga terekam secara terus-menerus dengan amplitudo berfluktuasi antara 2 hingga 13 mm, di mana dominasi amplitudo berada pada angka 3 mm. Berdasarkan catatan tersebut, dinamika vulkanik di dalam tubuh gunung masih menunjukkan suplai energi yang aktif dan memerlukan pemantauan ketat dari otoritas berwenang.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi situasi siaga ini, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan serangkaian rekomendasi ketat yang wajib dipatuhi oleh seluruh elemen masyarakat. Masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, maupun para pendaki dilarang keras untuk mendekati, memasuki, ataupun melakukan aktivitas apapun di dalam wilayah radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Aturan zona steril ini juga diperketat dengan larangan beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari pulau baru yang muncul di sektor barat laut dan tenggara gunung.

Baca Juga Tragedi Pantai Puri Retno: Pelajar Tenggelam, Tim SAR Beraksi Cepat

Pihak berwenang juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman bahaya sekunder maupun primer. Ancaman tersebut meliputi lontaran batu pijar, potensi hujan abu lebat, aliran lava, serta ancaman erupsi sekunder yang dapat ditimbulkan akibat kontak langsung antara panas lava dengan air laut maupun air hujan. Meskipun demikian, masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Provinsi Lampung diimbau agar tetap tenang, tidak mudah terpancing, serta mengabaikan segala bentuk isu atau berita bohong mengenai potensi tsunami akibat erupsi.

Dilaporkan oleh Tim Peliput, aktivitas harian masyarakat di pesisir dapat terus berjalan seperti biasa dengan catatan senantiasa mengikuti arahan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Bagi masyarakat atau instansi yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai perkembangan aktivitas vulkanik terkini, dapat menghubungi kantor PVMBG di Bandung melalui nomor telepon (022) 7272606 atau langsung mendatangi Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Provinsi Banten.