Fabio Quartararo tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Pembalap Yamaha itu mengaku akan "marah besar" jika dirinya berada di posisi Pecco Bagnaia, yang tengah bergelut dengan performa Ducati sementara rekan setimnya, Marc Marquez, terus menuai kemenangan. Pernyataan ini muncul menjelang Grand Prix Austria, di mana Bagnaia datang dengan tiga DNF beruntun pada hari Minggu.

Bagnaia, juara dunia MotoGP dua kali, masih berjuang mengatasi masalah cengkeraman ban belakang pada Desmosedici GP25-nya. Sementara itu, Marquez, yang belum sepenuhnya pulih dari cedera, justru berhasil meraih kemenangan kelima musim ini dan kini memimpin klasemen. Kontras tajam ini membuat posisi Bagnaia di tim pabrikan Ducati semakin panas.

Ketika ditanya apakah ada kesamaan antara kesulitannya di Yamaha dengan yang dialami Bagnaia, Quartararo menjawab tegas, "Tidak, karena Marc sedang menang. Jika Alex [Rins], Jack [Miller], atau Toprak [Razgatlioglu] yang menang, saya sendiri akan berada dalam situasi buruk." Ia menambahkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi, tetapi yang jelas, jika rekan setimnya menang sementara ia tertinggal, ia akan berusaha keras memahami penyebabnya.

- Advertisement -
Advertisement

Quartararo juga menyinggung soal klip DAZN yang menampilkan Bagnaia mengeluh Ducati "tidak mengizinkannya" mencoba setelan motor yang lebih standar. Bagnaia sendiri membantah konteks klip tersebut. Quartararo mengaku tidak melihat klip itu, namun ia menegaskan bahwa ia selalu menyampaikan keluhannya langsung kepada tim, bukan kepada pembalap lain. "Saya katakan kepada orang-orang saya, saya tidak perlu menyembunyikan. Jika perlu, saya bicara langsung ke crew chief atau orang-orang Yamaha," ujarnya.

Pernyataan Quartararo ini bukan yang pertama kali menunjukkan frustrasinya. Baru-baru ini ia mengaku tidak akan lagi membantu pengembangan motor Yamaha karena tim tidak mengizinkannya menguji ban Pirelli di Austria pada Senin. Ia kemudian mengakui ucapannya itu kurang bijak. Namun, momen-momen seperti ini menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dirasakan para pembalap papan atas, terutama ketika performa tidak sesuai harapan.

Baca Juga KTM Butuh Vinales Kembali demi Fokus Pengembangan Motor 850cc

Bagi Bagnaia, tekanan semakin berat karena ia harus segera bangkit dari keterpurukan. Ducati jelas tidak bisa terus-menerus melihat Marquez mendominasi sementara Bagnaia tersandung. Jika tidak segera menemukan solusi, posisinya di tim bisa terancam. Sementara Quartararo, meski masih setia pada Yamaha, tetap menunjukkan bahwa ia tidak akan tinggal diam jika merasa tidak adil.

Pertanyaan besarnya sekarang: akankah Bagnaia mampu mengatasi masalahnya dan kembali bersaing? Atau akankah tekanan semakin membuatnya terpuruk? Yang jelas, Quartararo sudah memberikan pandangannya: menjadi pembalap yang kalah dari rekan setim adalah hal yang sangat menyakitkan.