Jakarta, Nusantara Media – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi perdamaian dalam konflik yang semakin memanas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Timur Tengah. Tawaran ini disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, dengan Prabowo bahkan bersedia bertolak langsung ke Teheran jika semua pihak menyetujui peran mediasi Indonesia.
Menurut pernyataan resmi Kemlu, Indonesia menyesalkan eskalasi serangan yang dilakukan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang memicu kekhawatiran global akan perang lebih luas. Presiden Prabowo menekankan pentingnya dialog untuk mengembalikan kondisi keamanan yang kondusif dan mencegah hilangnya nyawa sipil lebih lanjut.
Upaya ini mendapat sambutan positif dari beberapa negara di Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya. Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid menyatakan bahwa tawaran Indonesia mendapat dukungan dari Pakistan, Uni Emirat Arab (UAE), serta negara lain di kawasan tersebut. Iran sendiri membuka diri untuk komunikasi dengan Indonesia sebagai pihak netral, dengan Kedutaan Besar Iran di Jakarta mengapresiasi inisiatif Presiden Prabowo.
Namun, sikap Iran tetap tegas terhadap AS. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Teheran tidak lagi percaya pada proses negosiasi dengan AS karena pengalaman sebelumnya dianggap mengecewakan. Iran memilih menyelesaikan konflik melalui jalur lapangan perang, meski tetap menghargai peran Indonesia sebagai fasilitator komunikasi.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberikan tanggapan kritis terhadap upaya ini. Dalam pertemuan dengan Dubes Iran dan pernyataan publiknya, JK menilai persoalan ini sangat kompleks dan sulit bagi Indonesia karena posisi negara tidak setara dengan AS sebagai kekuatan super. Ia menyoroti adanya perjanjian internasional yang dianggap tidak seimbang serta keterkaitan isu dengan konflik Palestina-Israel yang lebih luas. JK menekankan bahwa mediasi memerlukan win-win solution yang realistis, sementara para pihak sudah saling balas serangan.
Para pengamat hubungan internasional juga menyatakan skeptisisme. Tawaran Prabowo dinilai berani dan menunjukkan ambisi diplomasi Indonesia, tetapi kurang realistis mengingat ketidakseimbangan kekuatan serta potensi dampak ekonomi bagi Indonesia jika konflik berlarut-larut, seperti fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakstabilan rantai pasok global.
Pemerintah Indonesia terus mendorong pendekatan diplomasi damai, dengan Menteri Luar Negeri Sugiono telah berkomunikasi langsung dengan mitranya di Iran untuk menyampaikan kesiapan Indonesia sebagai "jembatan" dialog. Situasi ini menjadi ujian bagi netralitas dan peran Indonesia di panggung internasional, di tengah kekhawatiran dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!