Banten. Nusantara.media – Dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati dan mencegah perburuan liar, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) telah menerapkan penutupan muara sungai di semenanjung ini. Kebijakan ini merupakan bagian dari sistem pengamanan Fully Protected Area (FPA) yang bertujuan untuk menjaga habitat Badak Jawa dan spesies lainnya dari ancaman perburuan ilegal.
Penutupan ini dilakukan sebagai respons terhadap maraknya aktivitas ilegal, termasuk perburuan badak yang berpura-pura melakukan kegiatan lain seperti memanen madu dan menangkap biota laut. Para pemburu sering kali menggunakan jalur muara sungai untuk memasuki kawasan konservasi, sehingga langkah ini dianggap krusial untuk melindungi satwa liar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
TNUK menggunakan batang langkap untuk menutup muara sungai. Tumbuhan ini dipilih karena:
– Mudah ditemukan dan tahan terhadap rendaman air dalam jangka waktu lama.
– Merupakan jenis invasif yang perlu dimusnahkan di kawasan TNUK.
Penutupan ini dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menghalangi pergerakan satwa liar, tetapi mencegah akses perahu ke dalam kawasan yang dilindungi.
Meskipun penutupan dilakukan, nelayan masih dapat berlindung dari cuaca ekstrem di sekitar muara. Penutupan dilakukan lebih dalam dari mulut muara, sehingga nelayan tetap dapat mencari perlindungan tanpa melanggar ketentuan yang ada. Namun, jika nelayan memasuki area yang lebih dalam, hal tersebut akan menjadi perhatian pihak berwenang.
Langkah tegas ini merupakan bagian dari komitmen TNUK untuk menjaga kelestarian kawasan konservasi, khususnya untuk melindungi Badak Jawa yang terancam punah. Dukungan masyarakat sangat diharapkan untuk keberhasilan langkah ini demi melindungi satwa liar dan memastikan kelangsungan ekosistem alami.
Dengan penutupan ini, diharapkan TNUK dapat terus menjadi rumah yang aman bagi Badak Jawa dan spesies lainnya, serta menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia.
Penulis : U. Suryana