Pekan balap MotoGP di Sirkuit Mandalika kembali memperlihatkan peliknya polemik regulasi teknis yang menuai kritik tajam dari para pembalap dan penggemar setia kejuaraan dunia. Salah satu isu paling disorot adalah aturan tekanan ban depan yang dinilai merusak esensi pertarungan murni di lintasan, sebuah pandangan yang ditegaskan secara terbuka oleh bintang muda asal Spanyol, Pedro Acosta, usai melakoni balapan penuh drama di Indonesia.

Regulasi teknis yang diperkenalkan pada Agustus 2023 mewajibkan seluruh pembalap untuk menjaga tekanan ban minimum pada batas tertentu selama persentase putaran tertentu dalam balapan utama maupun sesi sprint. Aturan ini menetapkan batas tekanan ban depan tidak boleh berada di bawah 1,80 bar untuk 60 persen total putaran grand prix. Pelanggaran atas regulasi ini berbuah sanksi berat berupa penambahan waktu 16 detik bagi pembalap yang melanggar di balapan utama.

Dalam praktiknya, aturan tersebut kerap memaksa para pembalap melakukan taktik tidak lazim di lintasan demi menghindari hukuman waktu dari pengawas balapan. Kasus terbaru menimpa sejumlah pembalap papan atas di Mandalika, di mana Marc Marquez dan Pedro Acosta terpaksa harus saling mengalah dan bergantian posisi di tengah balapan agar tekanan ban depan mereka bisa kembali naik ke batas aman setelah sempat turun drastis.

- Advertisement -
Advertisement

Akibat aksi saling memberi jalan tersebut, laju motor mereka melambat secara signifikan hingga akhirnya tersusul oleh pembalap lain di Tikungan-tikungan akhir. Kondisi ini membuat esensi balapan sebagai ajang adu kecepatan murni seolah tereduksi oleh kalkulasi teknis yang rumit. Taktik serupa juga sempat dikeluhkan oleh kontestan lainnya sehari sebelumnya, memperlihatkan betapa aturan ini telah memengaruhi jalannya kompetisi secara keseluruhan di level tertinggi.

Menanggapi situasi yang merugikan tersebut, Pedro Acosta melontarkan kritik keras terhadap kebijakan yang diterapkan oleh penyelenggara dan pemasok ban tunggal, Michelin. Menurut pembalap muda berbakat itu, regulasi yang ada saat ini sama sekali tidak sejalan dengan semangat kompetisi yang menjunjung tinggi pertarungan fair di atas lintasan balap internasional.

Aturan tekanan ban adalah omong kosong terbesar di kejuaraan ini, ungkap pembalap andalan pabrikan asal Austria tersebut setelah harus merelakan posisinya disusul beberapa kali. Anda tidak mungkin sedang bertarung memperebutkan gelar juara dunia lalu harus mengalami hal seperti itu hanya karena masalah kalkulasi tekanan udara pada karet bundar kendaraan.

Baca Juga Raul Fernandez Akui Peluang Gelar MotoGP 2026 Kini Sirna

Lebih lanjut, pembalap bernomor punggung tersebut menjelaskan bahwa para insinyur dan tim sangat kesulitan memprediksi kondisi suhu lintasan secara akurat sebelum start. Keputusan memasang angka tekanan tertentu di awal seringkali menjadi perjudian besar yang membahayakan performa motor secara keseluruhan.

Jika Anda menyetelnya terlalu tinggi maka motor tidak akan bekerja secara optimal, dan jika menyetelnya terlalu rendah Anda terancam hukuman berat sehingga harus melakukan aksi-aksi aneh di trek seperti membiarkan pembalap lain mendahului, tambahnya menegaskan kerumitan situasi teknis tersebut.

Sebagai solusi alternatif yang lebih masuk akal, Pedro Acosta menawarkan gagasan agar pihak penyelenggara memberlakukan standar tekanan ban yang seragam bagi seluruh peserta di grid. Dengan cara tersebut, tidak ada lagi kekhawatiran berlebih atau kebutuhan untuk melakukan taktik kotor di tengah balapan.

Jika kita semua memiliki tekanan standar yang sama di seluruh grid, maka segalanya akan jauh lebih mudah, usul Acosta. Pergi dengan tekanan yang terlalu tinggi bahkan sangat berbahaya bagi keselamatan. Melalui sistem ini, pemeriksaan bisa dilakukan sesaat sebelum start di grid tanpa harus membebani pembalap sepanjang balapan.

Pedro Acosta di MotoGP Mandalika
Pedro Acosta saat beraksi di Sirkuit Mandalika, Indonesia.