Aksi menegangkan tersaji di Sirkuit Mandalika ketika Pedro Acosta meluapkan kekesalannya terhadap regulasi teknis yang diterapkan di ajang Grand Prix Indonesia. Pembalap muda berbakat asal tim pabrikan tersebut secara terbuka melontarkan kritik tajam usai mengalami kendala pelik yang berkaitan langsung dengan regulasi tekanan ban depan.
Persoalan pelik ini memaksa sang pembalap muda untuk merelakan posisinya kepada pebalap berpengalaman asal Spanyol, Marc Marquez, dalam balapan utama hari Minggu yang berlangsung sepanjang 27 putaran penuh. Keputusan berat tersebut harus diambil setelah tim mendapati peringatan bahwa tekanan ban depan motornya berada di bawah batas minimum yang telah ditetapkan oleh penyelenggara.
Situasi di atas lintasan sempat diwarnai drama saling tukar posisi yang berulang kali terjadi demi menghindari ancaman hukuman penalti waktu selama 16 detik. Hukuman berat tersebut mengintai setiap kontestan yang terbukti melaju terlalu banyak putaran di bawah ambang batas minimum tekanan ban 1,8 bar yang sangat ketat.
Permasalahan terkait regulasi tekanan ban ini rupanya bukan yang pertama kali memicu kontroversi di akhir pekan balapan tersebut. Sebelumnya, insiden serupa juga dialami oleh Jorge Martin, di mana ia harus merelakan kemenangan dalam sesi balap sprint hari Sabtu akibat kendala teknis yang serupa pada perangkat roda kendaraannya.
Menanggapi situasi yang dinilai merugikan tontonan dan jalannya kompetisi tersebut, pembalap muda sensasional ini dengan tegas mendesak adanya evaluasi ulang secara menyeluruh terhadap aturan tekanan ban. Ia berpendapat bahwa sistem yang berlaku saat ini tidak realistis karena membebankan prediksi kondisi balapan secara mutlak kepada para insinyur dan mekanik tim sebelum lampu start dipadamkan.
Dalam sesi wawancara usai balapan, ia menyampaikan kritik pedasnya kepada para awak media termasuk sumber dari Crash. "Maksud saya, kami terlihat seperti keledai," ujar sang pembalap menggambarkan betapa kacaunya situasi taktis di atas lintasan akibat keharusan mengatur jarak dan membiarkan rival menyalip demi mematuhi regulasi.
Baca Juga Jadwal Lengkap MotoGP Thailand 2026 WIBIa menambahkan, "Maksud saya, saya pikir Marquez mengalami masalah yang sama seperti saya karena dia membiarkan saya lewat juga. Saya mengerti kita harus memiliki tekanan minimum sebelum turun ke balapan, tetapi Anda tidak dapat memutuskan... misalnya, kemarin, Martin. Saya membayangkan balapannya berpikir bahwa Bezzecchi dan Marc akan berada di depan."
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa variabel di atas lintasan sangat dinamis dan mustahil untuk dikontrol sepenuhnya oleh tim sejak awal. "Anda tidak dapat mengontrol apa yang dilakukan pembalap lain. Saya pikir kita harus memiliki tekanan minimum sebelum kita mulai di grid, dan kemudian apa yang terjadi terjadilah. Anda tidak dapat melakukan apa pun," tegasnya.
Meskipun dihantam berbagai kendala teknis yang menguras waktu serta konsentrasi, sang bintang muda tetap mampu mengamankan hasil yang kompetitif sebagai pembalap non-Aprilia terbaik di garis finis. Ia mengakui bahwa pertarungan sengit tersebut sempat menutup peluangnya untuk menembus barisan empat besar, namun ia tetap bersyukur dapat memaksimalkan potensi motornya di sirkuit kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!