PANDEGLANG, Nusantara Media – Suasana tidak biasa menyelimuti pesisir pantai di Kampung Karoeng, Desa Margariri, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Sejak beberapa hari terakhir, warga setempat dibuat bingung dan khawatir dengan fenomena alam yang dinilai ganjil: air laut di wilayah tersebut seolah "mati surut".
Kondisi ini terpantau pada hari Minggu, 7 September 2026. Pantauan di lokasi, termasuk di area bibir pantai yang terlihat landai dan berpasir gelap, menunjukkan permukaan air laut yang tampak stagnan.
Tidak ada pergerakan arus pasang naik seperti biasanya, namun juga tidak terjadi surut air yang ekstrem.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Abah Ace mengungkapkan kekhawatirannya secara mendalam. Menurut pengamatannya, keanehan ini telah terjadi secara terus-menerus selama beberapa hari terakhir.
"Sudah beberapa hari ini kondisi laut seperti ini terus. Tidak ada pasang maupun surut. Biasanya air akan naik dan turun mengikuti irama alam, tapi sekarang diam saja," ujar Abah Ace dengan nada cemas saat ditemui di sekitar pantai Kampung Karoeng.
Fenomena air laut yang tidak berfluktuasi ini memicu keresahan di kalangan nelayan dan warga sekitar. Aktivitas melaut yang biasanya sangat bergantung pada siklus pasang surut menjadi terganggu, dan lebih dari itu, ada ketakutan psikologis akan terjadinya hal yang tidak diinginkan.
Sebagai sesepuh kampung, Abah Ace tidak tinggal diam. Dia secara aktif menghimbau kepada seluruh warga, khususnya mereka yang bermukim dekat dengan bibir pantai, untuk tetap waspada dan tidak gegabah melakukan aktivitas di laut sampai kondisi kembali normal.
Fenomena "air laut diam" atau stagnant tide memang merupakan kejadian yang tidak wajar dan patut diwaspadai oleh masyarakat pesisir.
Meskipun penyebab pastinya belum dapat dipastikan tanpa kajian ilmiah mendalam, kondisi seperti ini seringkali dikaitkan dengan beberapa faktor hidrometeorologi atau geologis, antara lain:
Baca Juga Wagub Banten Pastikan RSUD Labuan Siap Layani Masyarakat1. Gangguan Angin Monsun: Adanya pola angin lokal yang kuat dan berlawanan arah dengan arus pasang surut normal dapat "menahan" pergerakan air, menyebabkan air terlihat tertahan di tempat.
2. Faktor Tektonik (Aktivitas Gempa): Pergerakan lempeng bumi, meskipun tidak selalu terasa getarannya, dapat mempengaruhi topografi dasar laut yang kemudian berdampak pada pola arus air laut di permukaan.
3. Anomali Cuaca Ekstrem: Tekanan udara tinggi atau rendah yang tiba-tiba di wilayah laut tersebut dapat mengubah keseimbangan permukaan air.
Bagi warga Kampung Karoeng, Desa Margariri, Pandeglang, fenomena ini menjadi peringatan dini yang serius. Normalnya, pola pasang surut di wilayah selatan Banten mengikuti siklus harian atau semidiurnal yang dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari.
Gangguan pada siklus ini—terutama ketika terjadi stagnasi berhari-hari—adalah sinyal bahwa ada perubahan ekosistem yang signifikan.
Pemerintah daerah dan instansi terkait seperti BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) setempat diharapkan segera merespons laporan warga dengan melakukan investigasi dan memberikan penjelasan resmi,
guna meredakan kecemasan publik dan memastikan keselamatan warga di kawasan rawan bencana.
Hingga berita ini diturunkan, warga Kampung Karoeng masih terus memantau perkembangan kondisi laut dengan saksama dan meningkatkan kewaspadaan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!