BANTEN, Nusantara Media — Menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045, kesiapan generasi muda di tingkat daerah menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan bangsa. Bergerak atas urgensi tersebut, komunitas Pemuda Berdampak sukses menyelenggarakan Diskusi Interaktif Serial I dengan mengangkat tema besar “Membaca Indonesia Emas 2045: Sejauh Mana Kesiapan Pemuda Banten Menyongsong Masa Depan Bangsa?” pada Senin (29/6/2026).
Forum dialog ini diinisiasi sebagai ruang strategis bagi generasi muda di Provinsi Banten untuk memetakan tantangan, membaca peluang, sekaligus merumuskan aksi nyata dalam mengawal roda pembangunan nasional yang dimulai dari daerah.
Kegiatan yang berlangsung dinamis ini menghadirkan tiga pemantik diskusi dari berbagai latar belakang kepemudaan dan sosial. Mereka adalah Ardhya Naufal Fahri, S.H., C.Med., C.IRP (Sekretaris Wilayah Lembaga Pembinaan Pemuda Remaja Masjid BKPRMI Provinsi Banten), Bagas Yulianto (Founder Pemuda Berdampak), serta Muhammad Husein, S.Pd (Aktivis Banten). Ketiganya secara mendalam mengupas tuntas bagaimana pemuda Banten harus mengambil posisi dan peran aktif di tengah derasnya dinamika global menuju 2045.
Founder Pemuda Berdampak, Bagas Yulianto, dalam pemaparannya menggarisbawahi bahwa bonus demografi dan potensi kepemudaan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya gerakan kolektif yang terstruktur. Ia menyerukan agar generasi muda keluar dari zona nyaman dan tidak sekadar menjadi pengamat sejarah.
“Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Kita harus bergerak, membangun kolaborasi, menciptakan inovasi, dan menghadirkan dampak yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena masa depan Banten dan Indonesia ada di tangan generasi hari ini,” ujar Bagas dengan tegas.
Senada dengan hal tersebut, Ardhya Naufal Fahri selaku Sekretaris Wilayah LPPRM BKPRMI Banten, mengingatkan bahwa indikator keberhasilan visi Indonesia Emas tidak boleh diukur dari aspek material semata. Menurutnya, fondasi utama dari negara maju adalah kualitas manusianya.
“Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi yang masif, tetapi juga tentang kesiapan karakter generasi muda. Pemuda harus hadir sebagai generasi yang memiliki nilai (values), kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar,” jelas Ardhya.
Dari sudut pandang pengawasan dan kebijakan lokal, Aktivis Banten Muhammad Husein soroti relevansi posisi geografis dan geopolitik Provinsi Banten. Banten memiliki modalitas yang sangat besar untuk menjadi penopang utama ekonomi nasional, namun hal ini menuntut keterlibatan kritis dari para pemudanya.
“Banten memiliki potensi luar biasa untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok Indonesia Emas 2045. Namun, seluruh potensi daerah tersebut harus dikawal ketat dengan gagasan, kepedulian, dan keberanian pemuda untuk terlibat langsung dalam proses birokrasi maupun pembangunan,” tutur Husein.
Melalui penyelenggaraan diskusi interaktif perdana ini, Pemuda Berdampak mengajak seluruh elemen generasi muda untuk mengubah paradigma berpikir. Visi Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya dipandang sebagai target statistik nasional milik pemerintah pusat, melainkan harus diinternalisasi sebagai gerakan bersama (collective movement) yang diinisiasi dari akar rumput di daerah.
Mengusung jargon perjuangan “Mengabdi, Bergerak, Berdampak”, Diskusi Interaktif Serial I ini diproyeksikan menjadi batu loncatan awal bagi terciptanya ekosistem kolaborasi inklusif di Banten. Ke depan, wadah ini diharapkan konsisten melahirkan gagasan segar dan aksi nyata demi mengawal Banten menuju masa depan yang inklusif, maju, dan berkelanjutan.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!