Ledakan dilaporkan terjadi di sebuah sekolah di kawasan Dasht-e-Barchi, Kabul barat, pada Senin sore, menimbulkan kepanikan dan melukai sejumlah siswa. Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan lima tahun kekuasaan Taliban di Afghanistan, yang justru menyoroti kerentanan keamanan yang masih membayangi.

Menurut laporan awal, ledakan terjadi sekitar pukul 16.30 waktu setempat di sekolah dan lembaga pendidikan swasta “Shama-e Hidayat”, yang terletak di lingkungan Mahdia. Saksi mata menyebutkan bahwa beberapa siswa telah dilarikan ke Rumah Sakit Alami untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga saat ini, jumlah korban dan penyebab ledakan belum dapat dipastikan.

Video yang beredar di media sosial, termasuk yang diunggah oleh Afghanistan International, memperlihatkan kerumunan orang mengelilingi ambulans di dekat lokasi kejadian. Diduga ledakan terjadi saat jam sekolah usai, sehingga anak-anak menjadi korban dominan dalam insiden ini.

- Advertisement -
Advertisement

Baik Kabul Now maupun TOLOnews, media lokal yang berbasis di Kabul, melaporkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh granat tangan. Namun, pihak berwenang Taliban belum memberikan komentar resmi, dan kebenaran laporan ini masih belum dapat diverifikasi secara independen.

Baca Juga Tragedi Brutal di Penang: Migran Aceh Tamiang Tewas Dikeroyok Massa Tiga Negara

Kawasan Dasht-e-Barchi dikenal sebagai daerah yang mayoritas dihuni oleh etnis Hazara, kelompok minoritas yang kerap menjadi sasaran serangan. Kelompok Islamic State in Khorasan Province (ISIS-K), afiliasi ISIL, sebelumnya telah mengklaim bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap komunitas Hazara dan minoritas agama lainnya, termasuk penargetan terhadap sekolah dan tempat ibadah.

Insiden ini kembali mengingatkan bahwa meskipun Taliban telah berkuasa selama lima tahun, tantangan keamanan dan ancaman terorisme masih menjadi momok yang belum teratasi. Dunia menunggu kejelasan dari pemerintah Taliban mengenai insiden ini, sementara warga kembali dihantui ketakutan akan keselamatan anak-anak mereka.