Sirkuit Austin kembali memicu perdebatan sengit di antara para pembalap Formula 1 setelah sesi kualifikasi yang menuntut fisik tinggi. Permukaan aspal di Circuit of The Americas (COTA) yang dibangun di atas tanah liat terus mendatangkan masalah struktural berupa gundukan atau gelombang ekstrem di beberapa titik krusial. Kondisi ini membuat para pengemudi harus bekerja jauh lebih keras, memancing reaksi beragam mulai dari keluhan terbuka hingga tanggapan bernada candaan dari para bintang grid.

Carlos Sainz, pembalap asal Spanyol yang kini menjadi bagian dari skuad Williams, menjadi salah satu suara paling lantang yang mengkritik kondisi lintasan tersebut. Selepas merampungkan sesi kompetitif, ia secara terbuka mengungkapkan betapa parahnya gundukan yang harus dilalui oleh mobil Formula 1 modern yang memiliki karakteristik suspensi sangat kaku dan ground clearance rendah. Menurutnya, masalah ini sudah seharusnya tidak dibiarkan begitu saja oleh badan pengatur tertinggi balap motor.

Dalam wawancaranya kepada media Spanyol As dan Dazn, Sainz menjelaskan secara rinci titik-titik krusial yang dianggapnya sangat mengganggu performa dan kesehatan fisik pembalap. "Di dossi ce ne sono due, in Curva 1 e alla 19. Non si vede niente, la testa sobbalza e dopo la sessione un po’ di ibuprofene aiutag Questi dossi non avrebbero dovuto passare i controlli FIA e loro sanno cosa debeno cambiare. Sembra piu la Dakar di mio padre che Austing.," ujar Sainz menggambarkan betapa kerasnya benturan yang ia rasakan di kokpit kendaraannya.

- Advertisement -
Advertisement

Kritik tajam tersebut merujuk pada gelombang di Tikungan 1 dan Tikungan 19 yang membuat pandangan pembalap terganggu akibat kepala yang terus-menerus terbentur dan bergetar hebat. Bahkan, dengan nada bercanda namun menyindir, Sainz menyamakan kondisi sirkuit di Texas tersebut seperti ajang reli ketahanan ekstrem, membandingkannya langsung dengan reli Dakar yang biasa ditaklukkan oleh sang ayah. Ia menegaskan bahwa pihak penyelenggara dan FIA seharusnya bisa mendeteksi serta menyelesaikan masalah kontur tanah argillosa ini sebelum homologasi trek diberikan.

Berbeda pandangan dengan kompatriotnya di lintasan, peraih tujuh gelar juara dunia Lewis Hamilton justru menanggapinya dengan santai dan penuh humor. Sebagaimana dilaporkan oleh Automoto.it, pembalap asal Inggris tersebut tidak mempermasalahkan gelombang aspal di COTA dan justru menganggapnya sebagai bagian dari karakter unik yang memperkaya tantangan teknis sebuah sirkuit modern.

Baca Juga Mercedes Ungkap Kru Pit F1 Singapura Sempat Vakum 15 Tahun

Hamilton menilai bahwa ketidaksempurnaan lintasan tidak selalu menjadi hal buruk, melainkan memberikan bumbu tersendiri bagi para pembalap untuk menunjukkan kapasitas terbaik mereka. "Si, ci sono dei dossi ma mi va bene cosi. Mi piacciono, danno carattere alla pista e aggiungono una sfida ulteriore. Il tracciato e fantastico e gli danno un tocco in piu. Curva 1 non e un problema, mentre la 9 e la 19 sono un po’ sconnesse ma niente di che. Ho 41 anni e la mia schiena sta benissimo," ungkap Hamilton dengan nada jenaka menepis segala kekhawatiran soal kondisi fisiknya menghadapi trek yang bergelombang.

Perbedaan respons antara Sainz dan Hamilton ini menyoroti bagaimana persepsi terhadap sirkuit modern sangat subjektif tergantung pada preferensi gaya memudi serta kondisi fisik masing-masing individu. Kendati demikian, isu keselamatan dan kenyamanan fisik akibat kontur tanah COTA tetap menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pengelola sirkuit agar balapan kelas premier tetap dapat menyuguhkan tontonan kompetitif tanpa menyiksa fisik para atlet secara berlebihan.