Menyaksikan ulang Grand Prix Malaysia 2015 menyisakan satu pemandangan paling mencolok, yakni betapa Valentino Rossi tampak begitu tegang di atas motor Yamaha pada lap-lap awal balapan tersebut. Pemandangan itu sama sekali tidak mencerminkan sosok sang legenda yang telah membentuk ulang peta persaingan kejuaraan selama bertahun-tahun sebagai pebalap terhebat sepanjang masa di ajang balap motor Grand Prix. Tanggal 25 Oktober 2015 sejatinya menandai peluang emas bagi Rossi untuk mengunci gelar juara dunia tahun itu, sebuah pencapaian yang belum pernah diraihnya lagi sejak musim 2009 silam. Sejak kejayaan terakhirnya itu, ia sempat mengalami cedera patah kaki parah pada musim 2010, menjalani periode suram bersama Ducati, sebelum akhirnya kembali ke pelukan Yamaha dengan status yang tidak lagi sepenuhnya mendominasi seperti masa lalu.

Peta kekuatan balap memang mulai bergeser melawan kepentingan Rossi pada akhir tahun 2000-an. Ketika ia kesulitan menemukan performa terbaiknya di Ducati, para rival tangguh seperti Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa justru semakin kuat, ditambah lagi dengan kemunculan ancaman baru yang begitu eksplosif dalam diri Marc Marquez pada grid 2013. Terlepas dari segala kekacauan yang mengiringi akhir musim 2015 yang pahit, seringkali terlupa bahwa Rossi sebenarnya mampu merangkai kampanye musim yang luar biasa cemerlang. Ia sukses mengamankan empat kemenangan balapan, termasuk penampilan masterclass di atas lintasan basah Sirkuit Silverstone. Konsistensinya luar biasa karena ia selalu berdiri di atas podium pada setiap seri balapan hingga seri Misano, atau dalam 13 balapan awal, dan hanya tiga kali gagal naik podium dengan finis di posisi lima besar.

Performa impresif tersebut ia tunjukkan saat bertarung melawan rekan setimnya sendiri di garasi Yamaha, Lorenzo, yang tanpa dapat disangkal merupakan pebalap yang lebih cepat di antara keduanya. Setelah mengawali tiga seri perdana dengan lambat, Lorenzo bangkit dengan menyapu bersih empat kemenangan beruntun dan total mengoleksi tujuh kemenangan sepanjang musim. Ketika pebalap Spanyol itu memimpin jalannya balapan, ia hampir mustihil untuk dikejar atau dikalahkan oleh siapapun. Kalah bersaing melawan rival sekelas Lorenzo tentu bukanlah sebuah noda atau titik kehinaan bagi karier seorang Rossi, bahkan jauh dari kesan tersebut mengingat ketatnya persaingan internal tim.

- Advertisement -
Advertisement

Setelah meraih gelar juara dunia keduanya yang begitu dominan pada musim 2014, Marquez harus berjuang keras menjinakkan motor Honda yang menolak gaya balap agresifnya. Ia pada akhirnya memetik banyak pelajaran berharga dari kampanye musim tersebut, terutama tentang kapan harus menyerah dan mengibarkan bendera putih pada balapan yang mustahil untuk dimenangkan. Fakta bahwa ia kemudian melenggang tanpa terkalahkan dalam perebutan gelar juara dunia antara tahun 2016 hingga 2019 merupakan bukti nyata atas pelajaran berharga yang dipetiknya dari masa lalu. Ketegangan antara Rossi dan Marquez sendiri sebenarnya sudah mulai tereskalasi melalui duel-duel ketat di atas lintasan pada paruh pertama musim 2015, termasuk senggolan dramatis di ujung balapan Grand Prix Argentina ketika Rossi yang memakai ban lebih baik sukses merebut kemenangan.

Baca Juga Honda Ubah Strategi Pembinaan: Program RoadToMotoGP Baru 2027

Konflik kian memanas tatkala insiden tikungan terakhir di Assen terjadi, di mana Rossi harus memotong chicane demi mengamankan kemenangan setelah Marquez mencoba menyusup dari sisi dalam. Insiden di Assen tersebut jelas menyulut kekesalan mendalam bagi Marquez, namun banyak pihak meyakini bahwa akar masalah sebenarnya justru bersemi dari peristiwa setahun sebelumnya. Marquez sempat mendapat undangan berkunjung ke peternakan VR46 pada tahun 2014, namun ia dikabarkan datang dengan memboyong kru pabrikan HRC demi mencari keunggulan kompetitif atas tuan rumah. Segala dinamika panas yang terjadi di lintasan setelah peristiwa tersebut diyakini sempat membuat para petinggi manajemen Yamaha dan Honda pusing tujuh keliling.

Jalan menuju Sepang 2015 tampaknya memang bermula dari insiden-insiden kecil yang terus menumpuk, mengingat ego adalah alat manipulasi pikiran yang sangat kuat dalam olahraga kompetitif. Selepas seri Assen 2015, situasi di paddock sempat mereda sejenak sebelum akhirnya meledak di Australia, tiga seri jelang berakhirnya musim, yang sekaligus menandai awal mula teori konspirasi yang hingga kini masih dipercaya oleh banyak pihak, termasuk oleh sang pebalap Italia itu sendiri.