Lampung Selatan, Nusantara Media - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali  pemutakhiran data terkait aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Berdasarkan laporan hasil pengamatan terkini pada Jumat, 4 September 2026, untuk periode pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, gunung api yang berada tepat di jalur perairan Selat Sunda ini terus memperlihatkan aktivitas kegempaan dan pelepasan material vulkanik yang signifikan. Dinamika alamiah yang terekam secara instrumental maupun visual ini membuat pihak berwenang menahan status gunung pada Level III atau Siaga, yang mengisyaratkan perlunya kewaspadaan tinggi dari masyarakat pesisir maupun pelancong laut.

Berdasarkan tinjauan visual dari pos pengamatan, cuaca di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan berawan dengan angin yang bertiup lemah menuju arah barat dan barat laut. Suhu udara terpantau stabil pada kisaran 28,7 hingga 30,4 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban berada di angka 65 hingga 69 persen, sementara kondisi ombak Selat Sunda terpantau tenang. Meski didukung cuaca yang relatif baik, fisik gunung setinggi 157 meter di atas permukaan laut tersebut sesekali tertutup oleh kabut berskala 0 hingga III. Begitu kabut menipis, terlihat sangat jelas adanya hembusan asap dari kawah utama yang berwarna kelabu hingga hitam pekat. Intensitas asap ini bervariasi dari sedang hingga tebal, membubung vertikal pada ketinggian 50 hingga 300 meter di atas puncak kawah. Warna asap yang pekat ini umumnya menjadi indikasi kuat adanya dorongan material abu vulkanik dari dapur magma dangkal.

Dari sisi kegempaan, instrumen seismograf PVMBG mencatat rentetan aktivitas bawah permukaan yang belum mereda. Selama periode enam jam pengamatan tersebut, terekam 12 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 8 hingga 38 milimeter yang berdurasi hingga 86 detik. Aktivitas yang patut diwaspadai adalah munculnya Tremor Harmonik sebanyak 18 kali dengan amplitudo mencapai 70 milimeter, sebuah sinyal yang kerap dikaitkan dengan pergerakan fluida magma menuju permukaan. Selain itu, jaringan kegempaan juga mendeteksi 9 kali gempa Low Frekuensi, 6 kali gempa Hybrid atau fase banyak, serta 1 kali gempa Vulkanik Dalam. Instrumen pemantau juga merekam adanya sinyal Tremor Menerus (Microtremor) yang konstan di amplitudo 0,5 hingga 11 milimeter.

- Advertisement -
Advertisement

Menyikapi deretan catatan aktivitas vulkanik tersebut, Badan Geologi dan PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas demi keselamatan nyawa. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari warga lokal, pengunjung, wisatawan, hingga para pendaki dilarang keras untuk mendekati area daratan Gunung Anak Krakatau. Aktivitas manusia dalam bentuk apa pun tidak diperkenankan berada di dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif. Jarak aman ini ditetapkan untuk mengantisipasi potensi bahaya lontaran material vulkanik pijar, paparan gas beracun, maupun hujan abu tebal yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan pendahuluan.

Baca Juga Pria Diduga Korban Pembunuhan Ditemukan di Cikarang Utara, Identitas Masih Diverifikasi