Bayang-bayang kelam GP Abu Dhabi 2021 mungkin tidak akan pernah sepenuhnya lenyap dari sejarah Formula 1, namun kesalahan prosedural yang terjadi pada hari itu telah membuka mata Federasi Internasional Automotif atau FIA mengenai betapa krusialnya pembenahan sistem pengawasan balapan. Tekanan besar yang selama ini dibebankan kepada segelintir individu di lapangan, minimnya dukungan infrastruktur di lokasi balap, keterbatasan sistem teknologi, serta tuntutan kalender balap yang terus berkembang membuat perubahan struktural menjadi sebuah keharusan yang mendesak, bukan lagi sekadar pilihan.

Datang di tengah badai kontroversi perebutan gelar juara dunia tersebut, Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem langsung menjanjikan tindakan nyata. Salah satu langkah terobosan pertama yang mendapat lampu hijau adalah pendirian Pusat Operasi Jarak Jauh atau Remote Operations Centre yang dirancang untuk memberikan dukungan analisis, saran taktis, serta sistem cadangan yang solid bagi para pengawas di sirkuit.

FIA awalnya mendirikan fasilitas operasional jarak jauh perdana di Jenewa pada awal musim 2022, meski fasilitas tersebut saat itu masih tergolong sangat mendasar. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan yang semakin kompleks, fasilitas mutakhir yang diberi nama ROC 3.0 resmi diluncurkan pekan ini dengan dihadiri langsung oleh Mohammed Ben Sulayem beserta CEO FOM Stefano Domenicali di markas besar F1 di Biggin Hill.

- Advertisement -
Advertisement

Berada di dalam ruangan khusus yang dilengkapi deretan meja kerja modern dan diawasi oleh sekitar 14 analis berpengalaman selama akhir pekan balapan berlangsung, fasilitas ini bahkan telah beroperasi secara senyap sejak jeda musim panas lalu. Sebagai inisiatif gabungan antara pihak FIA dan Formula One Management, pusat kendali ini menjadi salah satu dari empat pilar utama demi kelancaran jalannya grand prix, berdampingan langsung dengan ruang kendali balap utama, operasi sistem, serta dewan steward.

Cakupan kerja fasilitas ini terbilang sangat luas, mulai dari memantau apakah mobil melanggar batas lintasan atau tidak, menilai potensi pelanggaran bendera kuning, memeriksa posisi start mobil di grid saat balapan dimulai, hingga memantau berbagai insiden di lintasan untuk membantu race control mengevaluasi kebutuhan pengerahan mobil keselamatan atau pengibaran bendera merah secara lebih cepat dan akurat.

Berbagai aliran data langsung dari lintasan disuplai ke dalam sistem ini, mencakup lebih dari 140 saluran audio dan video, telemetri posisi mobil, hingga komunikasi radio tim. Teknologi tingkat lanjut juga dikerahkan secara maksimal, termasuk kecerdasan buatan untuk pengenalan bentuk visual, visi komputer, serta penandaan pesan radio otomatis guna membantu mendeteksi insiden di lintasan.

Salah satu manfaat terbesar dari sistem operasional jarak jauh ini adalah kombinasi antara teknologi mutakhir dan keahlian manusia dapat meringankan beban kerja ruang kendali balap di sirkuit yang sudah sangat sibuk mengurus berbagai hal teknis di garasi. Cara penanganan pelanggaran batas lintasan menjadi contoh paling sempurna dari efektivitas sistem baru ini.

Baca Juga Max Verstappen Menang Sprint GP Singapura dan Klasemen F1 Memanas

Sistem otomatis tiga lapis dikerahkan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang terdiri dari visi komputer, analisis deviasi jalur balap, serta teknologi geofencing. Teknologi kecerdasan buatan akan melakukan penyaringan awal pada sekitar 90 persen pelanggaran batas lintasan yang terlihat sangat jelas, sehingga tenaga manusia hanya perlu meninjau secara mendalam 10 persen sisa kasus yang berada di batas abu-abu.

Pendekatan ini terbukti mampu meminimalkan pemborosan waktu sekaligus memastikan ketelitian investigasi tetap terjaga pada kasus-kasus krusial yang benar-benar menentukan jalannya lomba. Meskipun demikian, peran pusat kendali ini bukanlah sebagai pihak penentu yang menjatuhkan sanksi secara mutlak terkait penalti batas lintasan.

Fungsi utamanya adalah menyediakan seluruh data dan informasi komprehensif agar para steward dapat membuat keputusan final secara mandiri. Direktur Olahraga FIA Tim Malyon menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pengawas balapan dengan menyatakan, "Pada akhirnya para steward lah yang menghapus catatan waktu lap, sehingga mereka kemudian akan meninjaunya kembali untuk memastikan bahwa mereka merasa yakin dengan keputusan tersebut."

Tim Malyon menambahkan penjelasan lebih lanjut mengenai dinamika peninjauan di ruang pengawas dengan mengatakan, "Tentu saja dalam beberapa kasus keputusan dapat diambil dengan cepat. Namun dalam kasus lain yang situasinya berada di batas abu-abu, prosesnya tentu membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk memastikan keadilannya."