Legenda balap motor dunia Casey Stoner, yang pernah mendominasi balapan kandangnya dengan catatan enam kemenangan beruntun di sirkuit Phillip Island bersama pabrikan Ducati dan Honda antara tahun 2007 hingga pensiun pada akhir musim 2012, mengungkapkan bahwa sirkuit tepi laut yang legendaris tersebut menyimpan karakter yang sangat menuntut konsentrasi tinggi. Meskipun namanya diabadikan pada tikungan ketiga trek tersebut, pebalap asal Australia itu mengaku tidak pernah bisa merasa benar-benar santai saat memacu kendaraannya di sana.

Dalam sebuah wawancara mendalam melalui kanal YouTube bersama sesama mantan pebalap MotoGP asal Australia, Chris Vermeulen, yang membahas pratinjau ajang MotoGP di Phillip Island, Stoner menceritakan alasan mengapa karakteristik trek tersebut sempat menjadi momok sekaligus sangat cocok dengan gaya balapnya di masa lalu. Tantangan terbesar dalam era MotoGP kala itu adalah bagaimana cara menyalurkan tenaga mesin secara maksimal ke atas aspal serta menjaga keawetan kompon ban sepanjang balapan berlangsung secara konsisten tanpa mengalami degradasi parah.

"Di MotoGP, mencoba menyalurkan tenaga adalah hal tersulit dan membuat ban bertahan sepanjang balapan adalah sebuah tantangan," ujar Stoner dalam wawancara tersebut, mengenang masa-masa kejayaannya di lintasan berkecepatan tinggi. Ia menambahkan bahwa kondisi trek dengan kecepatan tinggi dan cengkeraman rendah memungkinkan sepeda motor bergerak serta meluncur sedikit lebih bebas, yang justru sejalan dengan kebiasaannya berlatih di trek tanah liat masa kecilnya sehingga membantunya beradaptasi.

- Advertisement -
Advertisement

Meskipun memiliki catatan sejarah yang begitu gemilang di kandang sendiri, perjalanannya tidak selalu berjalan mulus sejak awal karier balapnya di kelas-kelas sebelumnya. Stoner mengenang bagaimana dirinya sama sekali tidak menikmati balapan di kelas 125cc, sempat tampil cukup cepat di kelas 250cc namun harus membuang peluang emas akibat terjatuh pada musim 2005, sebelum akhirnya benar-benar mampu menguasai karakteristik motor bermesin besar setelah melalui proses adaptasi selama beberapa tahun.

Bagi peraih gelar juara dunia tersebut, melintasi aspal Phillip Island selalu menjadi latihan manajemen risiko yang ketat karena lintasan ini dapat memberikan hukuman instan jika pebalap melakukan sedikit saja kesalahan perhitungan. "Tempat itu bisa menggigitmu dengan sangat cepat. Semuanya berjalan baik, dan tiba-tiba kamu berada di gravel pada kecepatan 200 km/jam sambil memuntahkan kerikil dan berpikir, 'Apa yang salah yang sudah kulakukan?'" kenangnya menggambarkan ketegangan di atas motor.

Baca Juga Alasan Ai Ogura Tolak Tawaran Honda Demi Sukses di MotoGP

Ia juga menyoroti titik-titik krusial di sepanjang sirkuit seperti tikungan jepit Miller, di mana bagian depan motor dapat kehilangan traksi dalam hitungan detik, serta terjangan angin samping yang menghantam keras saat melewati tikungan Stoner di Turn 3 maupun tikungan Doohan di Turn 1. Kombinasi faktor alam dan teknis inilah yang membuat Phillip Island di mata sang legenda tetap menjadi sirkuit yang sangat brutal jika salah sedikit saja, namun memberikan kepuasan luar biasa ketika berhasil ditaklukkan dengan sempurna.

Rangkaian sesi latihan bebas untuk akhir pekan balap MotoGP Australia di Phillip Island ini dijadwalkan mulai bergulir pada Jumat pagi waktu setempat dengan tantangan cuaca yang dinamis. Laporan prakiraan cuaca terkini memprediksi kondisi cerah akan menghiasi lintasan pada hari Jumat, namun ancaman hujan deras serta suhu udara yang jauh lebih dingin diprediksi bakal datang menerpa pada hari Sabtu dan Minggu, sebelum ajang bergengsi ini nantinya bersiap berpindah tuan rumah ke Adelaide mulai tahun 2027 mendatang.