Situasi sulit yang mendera pabrikan asal Iwata, Yamaha, di ajang balap motor premier musim ini kembali menemui babak baru yang mengkhawatirkan. Dalam sesi kualifikasi di Sirkuit Sepang, performa motor pabrikan berlambang garpu tala tersebut tampak kedodoran di tengah absennya sejumlah pebalap akibat cedera, termasuk Jorge Martin dan Raul Fernandez dari kubu Aprilia, yang membuat grid menyusut menjadi hanya 20 pebalap saja.

Empat wakil Yamaha yang turun ke lintasan—yakni Jack Miller, Alex Rins, Fabio Quartararo, serta pebalap pengganti Augusto Fernandez yang mengisi slot Toprak Razgatlioglu—harus puas menduduki posisi start belakang. Keempatnya terdampar di urutan ke-16, 17, 18, dan 20, hanya diselipi oleh pebalap pengganti Gresini Racing, Iker Lecuona, yang menghuni posisi ke-19 pada penampilan perdana di atas kuda besi Ducati.

Meskipun memulai lomba dari barisan belakang, juara dunia 2021 asal Prancis tersebut mampu menunjukkan kapasitasnya dengan berjuang keras hingga garis akhir. Quartararo tampil sebagai yang terbaik di antara barisan pebalap Yamaha lainnya dan sukses merangsek naik untuk menyentuh garis finis di posisi kesebelas, terpaut sekitar 10 detik di belakang sang pemenang balapan, Pedro Acosta dari tim Red Bull KTM. Kendati demikian, hasil tersebut gagal berbuah manis lantaran sistem poin Sprint hanya memberikan angka kepada sembilan pebalap terdepan.

- Advertisement -
Advertisement

Selepas merampungkan sesi yang menantang tersebut, pebalap berjuluk El Diablo itu tidak menutup-nutupi kenyataan pahit mengenai performa mesin YZR-M1 miliknya. Ia secara terbuka mengakui bahwa sesi kualifikasi sama sekali tidak berjalan sesuai harapan akibat minimnya feeling terhadap kendaraannya di atas aspal Sepang yang panas.

"Kualifikasi tidak berjalan baik, saya tidak memiliki feeling sama sekali," ujar Quartararo membuka analisisnya mengenai hasil kualifikasi yang menempatkannya di posisi ke-18. Situasi berubah ketika rintik hujan mulai turun jelang balapan pendek, yang justru memberikan secercah harapan baginya untuk memangkas jarak dengan para pesaing di depan.

"Ketika hujan mulai turun pada saat Sprint, saya menekan secara maksimal untuk mengejar pebalap di depan saya. Tidak banyak jarak yang memisahkan saya dengan Pecco Bagnaia di posisi keenam, dan dalam kondisi normal tentu jarak kami akan jauh lebih tertinggal. Saya menikmati memacu motor hingga batas maksimal di atas lintasan basah karena potensi kami sebenarnya sangat rendah," tambahnya menjelaskan situasi krusial tersebut.

Lebih lanjut, pebalap andalan Yamaha ini menyoroti kontras performa motornya antara lintasan kering dan basah. Menurutnya, ketika lintasan benar-benar basah dan menggunakan ban khusus hujan, karakter motor tidak terlalu buruk dan memberikan ruang bagi pebalap untuk mengambil risiko.

"Saya berdoa agar kondisi hari Minggu tetap seperti ini. Tentu saja dalam kondisi basah sangat mudah melakukan kesalahan, tetapi jika Anda menjadikan pebalap di depan sebagai acuan, Anda bisa sedikit lebih memaksa. Ketika basah dan kami memakai ban hujan, motor kami tidak terlalu buruk. Namun ketika kami memakai ban slicks dan hari hanya sedikit basah, motor tetap tidak berfungsi. Pada akhirnya itu bergantung pada pebalap untuk memacu hingga batas, dan saya berhasil melakukannya dengan cukup baik," ungkapnya.

Baca Juga Luca Marini Ungkap Efek Virus Mengerikan di MotoGP Australia

Kendati demikian, masalah fundamental pada motor pabrikan Jepang tersebut tergolong masif dan kompleks. Quartararo menyebutkan bahwa daftar keluhan terhadap motornya sudah terlalu panjang untuk diungkapkan satu per satu, mulai dari getaran hebat atau chattering pada bagian roda depan hingga gejala roda belakang yang kerap kehilangan traksi.

Dalam perbincangan santai dengan kelompok kecil jurnalis, ia merangkum seluruh masalah teknis tersebut sebagai bentuk 'kekurangan rasa' atau feeling secara keseluruhan. Tim mekanik sempat berdalih bahwa tingkat cengkeraman atau grip lintasan sedang mengalami penurunan drastis, namun argumen tersebut langsung dipatahkan oleh data waktu putaran para kompetitor.

"Tim mengatakan bahwa grip di lintasan jauh lebih rendah. Tetapi itu adalah perbandingan dengan data kami dari tahun sebelumnya. Ketika saya melihat catatan waktu putaran pebalap lain, mereka melaju sangat cepat. Sebaliknya, kami jauh lebih lambat," tegas Quartararo menyoroti ketimpangan performa yang kian melebar dengan pabrikan rival.

Menatap sesi balapan utama Grand Prix yang akan segera dilangsungkan, target realistis telah dipasang oleh sang pebalap utama. Mengingat gap performa yang terlampau jauh dari barisan terdepan, prioritas utamanya bukanlah memburu podium, melainkan sekadar membawa pulang motor tanpa insiden.

"Hal terpenting dalam Grand Prix hari Minggu adalah bisa finis dalam satu bagian utuh," tutupnya menegaskan bahwa ambisi besar untuk meraih hasil optimal harus tertahan oleh batasan teknis motor yang belum kunjung menemui solusi instan.