Wacana pembentukan serikat pembalap MotoGP kembali bergulir di paddock kejuaraan dunia balap motor paling bergengsi ini. Langkah tersebut diambil menyusul pertemuan rahasia yang digelar pada hari Kamis di sela-sela rangkaian akhir pekan Grand Prix Australia, seperti yang dilaporkan pertama kali oleh media internasional The-Race.

Sejumlah pembalap mengakui pada hari Jumat bahwa situasi pelik yang menyelimuti rencana penyelenggaraan Grand Prix Qatar mendatang telah memicu mereka untuk kembali memikirkan urgensi memiliki perwakilan resmi yang lebih kuat. Pertemuan tertutup tersebut bahkan melibatkan pemungutan suara di kalangan pembalap mengenai apakah mereka bersedia untuk tetap membalap di Sirkuit Lusail dalam dua pekan ke depan, menyusul kekhawatiran yang kian meningkat atas eskalasi konflik yang signifikan di kawasan tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua perpertiga dari total grid menyatakan sikap menolak untuk ambil bagian.

Situasi pelik ini diyakini oleh berbagai sumber dapat memicu tindakan lanjutan yang lebih tegas dari para peserta. Ada indikasi kuat bahwa para pembalap kini tengah mempertimbangkan untuk merekrut kuasa hukum bersama guna menghadapi potensi tekanan dari tim maupun promotor kejuaraan yang berniat memaksa mereka hadir di lintasan. Meskipun belum ada resolusi final yang dicapai untuk mengatasi permasalahan jangka pendek ini, peristiwa tersebut telah membuka mata para pembalap betapa minimnya kekuasaan serta hak suara yang mereka miliki dalam struktur besar kejuaraan.

- Advertisement -
Advertisement

Pembalap tim Tech3 KTM, Enea Bastianini, memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi yang sedang dihadapi oleh para atlet di dalam paddock. Menurutnya, diskusi kolektif semacam ini sangat krusial untuk menentukan arah masa depan mereka sebagai pilar utama olahraga balap motor roda dua tersebut. Proyek pembentukan serikat ini sebenarnya sudah mulai dirintis sejak dua tahun lalu, namun gagal diselesaikan hingga tuntas, sehingga momentum sekarang dinilai sangat tepat untuk mengembalikan kendali atas masa depan mereka.

"Kami telah berbicara," ungkap Enea Bastianini menjelaskan kepada media setelah pertemuan tersebut. "Dan sangat penting bagi semua orang untuk berbicara bersama-sama. Demi masa depan kami, hal ini sangat penting. Kami mulai dua tahun lalu dengan proyek serikat ini, tetapi kami tidak menyelesaikannya, dan saya pikir sangat penting untuk memiliki sedikit kekuasaan. Tim-tim memiliki kekuasaan, Dorna memiliki kekuasaan, tetapi kami, kami tidak memiliki apa-apa. Itu tidak normal, karena dunia kami tidak ada tanpa kami, bahkan jika kami juga tidak ada tanpa dunia MotoGP, jadi perlu ada kompromi."

Baca Juga Dani Pedrosa Bongkar Titik Balik Karier dan Hubungan dengan Alberto Puig

Perbincangan mengenai ketidakberdayaan para pembalap ini mengemuka hanya berselang beberapa hari setelah Wakil CEO MotoGP, Carlos Ezpeleta, memberikan keterangan kepada awak media. Penjelasan tersebut disampaikan menyusul diperkenalkannya format akhir pekan balapan baru yang menuai perdebatan untuk musim 2027 mendatang, di mana Ezpeleta menyatakan bahwa pihak promotor tidak menganggap tugas mereka untuk menghimpun masukan langsung dari pembalap, melainkan tanggung jawab pihak tim.

"Kami tidak memiliki kontrak apa pun dengan para pembalap," ujar Carlos Ezpeleta saat ditanya mengenai alasan mengapa para pembalap tidak dilibatkan secara langsung dalam perumusan format kualifikasi berintensitas tinggi tersebut. "Kami memiliki kontrak dengan tim-tim. Mereka adalah bagian dari tata kelola kejuaraan, bagian dari model tata kelola kejuaraan, dan sama sekali bukan berarti para pembalap tidak boleh terlibat. Pintu kami selalu terbuka, dan ada komisi keselamatan yang berkumpul pada akhir pekan balapan untuk waktu yang sangat lama. Di dalamnya, kami selalu membahas setiap perubahan yang ingin kami lakukan."

Gagasan mendirikan serikat pembalap bukanlah sebuah wacana baru di kancah kejuaraan dunia Grand Prix, mengingat ide serupa telah diangkat berulang kali pada masa lalu. Dorongan paling masif sebelumnya terjadi pada tahun 2023 lalu, tepatnya setelah diterapkannya format balapan sprint di setiap seri kejuaraan, yang langsung memicu perdebatan panjang mengenai beban fisik serta keselamatan para pembalap di sepanjang musim kompetisi yang semakin padat.